Rakyat Papua selalu mengenang perjuangan Feri Marisan

Jayapura, Jubi – Anggota Komisi I DPR Papua Emus Gwijangge menyatakan belangsungkawa atas meninggalnya aktivis HAM yang juga seniman Papua, Ferdinand Marisan atau biasa disapa Feri Marisan, Sabtu (6/7/2019) dini hari.

Emus Gwijangge mengatakan, rakyat Papua tak akan melupakan perjuangan Feri Marisan dalam bidang hak asasi manusia. Perjuangan mantan Direktur Elsham Papua itu tidak dapat dinilai dengan apapun.

“Saya secara pribadi bersama keluarga, dan mewakili Komisi I DPR Papua menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Ferdinand Marisan. Keluarga yang ditinggalkan tetap tabah. Seperti yang tertulis dalam Alkitab perjanjian baru, Filipi 1:21 ‘karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” kata Emus Gwijangge saat menghubungi Jubi, Sabtu (6/7/2019) malam.

Menurut Emus Gwijangge, semasa hidupnya almarhum dikenal vokal menyuarakan hak-hak dasar orang asli Papua, dan masalah hak asasi manusia. Apa yang telah dilakukan Feri Marisan selama hidupnya, tentu akan dilanjutkan para aktivis lainnya.

“Feri Marisan tidak hanya aktivis HAM Papua, ia juga merupakan seniman Papua. Membawakan lagu-lagu Mambesak bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam grup musik Eyuser. Kami berduka karena almarhum termasuk mitra kerja kami,” ucapnya.

Sementara pengacara HAM Papua, Aloysius Renwarin mengatakan, sosok Arnold Ap salah satu musisi legendaris Papua, seakan terlahir kembali dalam diri Feri Marisan, pria kelahiran kampung Noribo, pulau Numfor, Kabupaten Biak Numfor pada 1971.

Feri Marisan menurut Alo Renwarin memiliki cara tersendiri dalam mengadvokasi kasus-kasus HAM di tanah Papua. Tidak hanya lewat laporan atau data, juga melalui musik (lagu).

Mendiang Fery Marisan, katanya, salah satu koordinator aksi demo pertama di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) pada Agustus 1995. Demo yang melibatkan sebanyak 800 mahasiswa se Kota Jayapura.

Demo tersebut merupakan yang pertama sejak 1969 di Kota Jayapura. Demo ini merespons laporan pelanggaran HAM berat kasua Bela dan Alama di sekitar areal PT Freeport Indonesia yang dilaporkan Uskup Herman Muninghoff.

“Sejak aksi demo 1995, almarhum langsung bergabung dengan Elsham Papua yang sebelumnya bernama Irian Jaya Peace and Justice hingga akhirnya bernama Elsham pada 1998,” ujarnya.

Almarhum Feri Marisan kata Alo Renwarin, pernah mendapat ancaman akan dibunuh, karena memberikan keterangan bahwa untuk membawa kasus HAM ke PBB butuh proses dan mekanisme yang sangat panjang.

“Pendapat itu langsung mendapat respons negatif sehingga mendapat ancaman,” kata Renwarin.

Ipar mendiang Feri Marisan, dr Trayanus Yembise mengatakan almarhum sudah lama menderita penyakit diabetes (gula darah), dan menyebabkan komplikasi.

“Sudah satu bulan lebih mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Abepura,” kata dr Trayanus Yembise.

Katanya, kini jenazah almarhum di semayamkan di rumah duka keluarga Pdt Yembise di kompleks Sekolah Tinggi Thelogia (STT) Is Kijne, jalan Trikora Abepura. (*)

Editor: Edho Sinaga

Tidak Sekedar Sahabat & Tidak Sekedar Kerabat: R.I.P Ferry Marisan

Walaupun baru bertemu secara langsung sekitar delapan tahun yang lalu tapi kau telah menjadi bagian hidupku. Kau sosok yang sederhana, walaupun saat itu kau dalam posisi Direktur ELSHAM Papua tapi kau rela jadi verifikator untuk program yang saya jalankan, saya memanggilmu ‘kaka’ tapi anak-anak saya tidak pernah panggil ‘bapatua’.

Mereka selalu bilang “Bapa Ferry” karena kau biasa gendong mereka dan perlakukan mereka seperti anak-anak kandung.Kenangan yang tidak terlupakan bersamamu adalah pada waktu saya dengan anak-anak berkunjung ke Kampung Mandori di Numfor.

Waktu kitong bertamu ke kaka punya rumah, kaka ambil piring besar cuci saya punya kaki, kita dua duduk cerita sampai tengah malam, listrik tidak menyala, kaka perbaiki genset yang sudah rusak, setelah genset menyala kk suruh ade-ade pikul genset dalam kondisi menyala lapis dengan lampu-lampu antar kitong pulang ke lokasi penampungan.

Sio … Kk Ferry Marisan kk terlalu baik sama saya, saya dengar kk sakit dan opname, tapi saya pikir kalau sudah di rumah sakit mungkin ada perawatan medis dan bisa sembuh.

Tuhan Yang Mahakuasa tahu semua yang terjadi. Walaupun nanti semua tinggal kenangan saya akan tetap ingat semua pesan dari Kaka di Kampung Mandori tanggal 14 Desember 2018

Source: https://www.facebook.com/

Ferry Marisan, Mantan Ketua ELSAM Papua, Tokoh Musik Akustik Tanah Papua

Mengenang Arnold Ap pada 26 April 2019

Oleh: Andre Barahamin


Hari ini, 26 April, 35 tahun lampau, Arnold Ap dieksekusi. Ditembak tentara di kepala karena dianggap berbahaya. Jadi ancaman karena lagu dan kerja kebudayaannya untuk Papua.

Menjelang kematiannya, Arnold Ap menulis satu lagu berjudul “Misteri Kehidupan”. Direkam secara akustik dalam sebuah kaset tape yang kemudian diseludupkan ke luar penjara menuju kamp pengungsian di Papua New Guinea.

Penerimanya adalah Corry Bukorpioper, perempuan yang dinikahi Arnold Ap di tahun 1974. Lagu tersebut menjadi tanda mata perpisahan Arnold Ap dengan dunia.

Ia dibunuh sesudahnya. Mati di ujung bedil tentara karena menjadi berani menjadi Papua, menjadi Papua yang berani.

Arnold Clemens Ap lahir di Biak Numfor pada 1 Juli 1945. Menghabiskan masa kecil dengan belajar di sekolah yang didirikan para misionaris Kristen. Di tahun 1967, ia lalu melanjutkan studi dengan mendaftar sebagai pelajar di jurusan geografi di Jurusan Ilmu Keguruan, Universitas Cendrawasih. Ini adalah periode di mana Arnold Ap mulai terdidik secara politik.

Puncaknya adalah keterlibatan dirinya di tahun 1969. Bersama dengan para aktivis pelajar lain, Arnold Ap ikut terlibat menggalang demonstrasi di areal kampus Universitas Cendrawasih di Abepura untuk menentang Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Akibatnya, Tuan Ap lalu ditangkap dan dipenjarakan di Ifar Gunung.

Tapi pemenjaraan ini tidak membuat seorang Arnold Ap berhenti. Sebaliknya, terali besi sel justru menebalkan semangatnya.

Usai lulus kuliah, Arnold Ap diterima bekerja sebagai kurator di museum milik Universitas Cendrawasih. Jabatan yang kemudian harus ditanggalkan setelah Ap ditangkap tentara dengan tuduhan subversif.

Posisi sebagai kurator museum dimanfaatkan Arnold untuk menyebarkan gagasan kebudayaannya. Ia mengajak dan memprovokasi anak-anak muda Papua untuk terlibat aktif dalam revitalisasi budaya Papua.

Arnold mengajarkan bagaimana mengisi waktu luang dengan pulang ke kampung, melakukan penelitian sederhana mengenai beragam suku di Papua, mempelajari produk-produ kebudayaannya, untuk kemudian disajikan kembali ke publik Papua secara luas.

Arnold percaya bahwa orang Papua harus mengenal diri dan juga saudara sebangsanya. Itu sebabnya ia mendedikasikan diri secara penuh untuk kerja-kerja kebudayaan. Arnold mengubah museum universitas sebagai tempat pengumpulan dan katalogisasi produk-produk kebudayaan Papua yang dikumpulkan pelajar.

Tuan Ap juga berkunjung ke berbagai tempat dan mewawancarai banyak orang di Papua. Ia mencatat dengan tekun, menuliskan kembali fabel dan mitos orang Papua serta mengaransemen dan menyanyikan kembali lagu-lagu tribal. Ia menggunakan kekayaan dan keragaman budaya serta kelimpahan warisan tutur dari para leluhur sebagai alat untuk mengorganisir, payung untuk menyatukan dan cermin untuk melakukan refleksi.

Pada Agustus 1978, Arnold Ap bersama sahabat perjuangannya Sam Kapissa mendirikan grup Mambesak. Keduanya adalah aktor di balik visi musik grup tersebut. Mereka dibantu Thonny W. Krenek yang bekerja mendokumentasi berbagai macam gerak tari orang Papua, yang menjadi tandem pentas ketika Mambesak mengisi panggung musik.

Grup ini lalu mengisi berbagai pementasan dan segera menjadi idola. Orang-orang Papua terpesona dengan anak-anak muda yang tampil membawakan lagu tradisional, diiringi tarian asli Papua dan sesekali melontarkan lelucon lokal (mop). Mambesak segera menjadi ikon.

Mambesak–yang berarti Cendrawasih dalam bahasa Biak–di kemudian hari secara cepat bertransformasi menjadi simbol persatuan Papua.

Di saat yang bersamaan, Tuan Ap juga mengelola acara radio bernama Pelangi Budaya di Radio RRI Nusantara V. Lewat radio ini, Arnold Ap menyebarluaskan gagasan politiknya soal Papua yang berkulit hitam, berambut keriting dan pemakan sagu.

Kepada anak-anak muda di wilayah Papua, Ap mengirimkan pesan dan sekaligus menjadi teladan bagaimana menjadi Papua dengan bangga dan tanpa rasa lalu. Lewat propaganda di radio, lewat alunan musik dan riangya kaki-kaki tanpa alas yang menari bermandi debut, Tuan Ap di masanya, menjadi simbol gelombang kebangkita orang Papua.

Orang Papua yang tidak takut dengan todongan senjata junta militer penjajah, seperti yang mereka lakukan sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di tahun 1969. Orang Papua yang dengan bangga dan lantang dapat mengatakan: “Sa Papua!”

Junta militer pimpinan Jendral Soeharto bahkan mengancam Sinar Harapan ketika memberitakan bagaimana Arnold Ap diisolasi dari keluarganya. Dilarang bertukar kabar atau dikunjungi sanak famili.

Itulah mengapa Arnold dibunuh pada 26 April 1984 oleh Kopassandha -sebutan untuk Kopassus di masa itu. Seorang Brimob yang mengetahui peristiwa pembunuhan Arnold, mengonfirmasi bahwa pejabat kemiliteran memang menganggap Ap sebagai orang yang sangat berbahaya.

Penyebabnya adalah aktivitas-aktivitas para pemain kelompok Mambesak yang mempromosikan jati diri orang Papua. Mereka menginginkan Arnold Ap dihukum mati atau dipenjara seumur hidup. Namun mereka tidak punya bukti untuk dibawa ke pengadilan.

Arnold Ap dieksekusi semata-mata karena memiliki cita-cita dan secara berani berjuang mewujudkannya.

Arnold Ap adalah martir Papua yang sekaligus menjadi penanda bagaimana takutnya junta militer kehabisan akal dengan meluasnya kesadaran orang Papua menjadi diri sendiri. Mambesak menyuntikkan kepercayaan diri dan mengangkat kesenian rakyat Papua, membuat tentara gusar dan tidak tenang.

Misi Soeharto untuk memaksa orang Papua menjadi orang Indonesia terancam gagal karena timbulnya kesadaran orang Papua untuk berpihak pada akar budayanya sendiri.

Menyanyikan lagu-lagu dan tari-tarian rakyat yang hidup pada keseharian rakyat Papua seperti yang dilakukan Arnold Ap adalah ancaman disintegrasi. Hukumannya adalah kematian.

Ketika Mochtar Kusumaatmadja–Menteri Luar Negeri saat itu–memberikan keterangan di salah satu konferensi pers di bulan Juni 1984, Indonesia tanpa sadar telah mendeklarasikan diri kalah. Menjadi kerdil di hadapan Arnold Ap yang dibunuh dengan keji, tapi coba diingkari.

Kusumaatmadja saat itu tidak sedang berbohong untuk dirinya sendiri. Ia sedang berbohong atas nama sebuah negeri yang ketika merdeka, menyatakan tidak akan toleran dengan penjajahan di muka bumi.

Menuduh Arnold Ap sebagai “separatis” adalah noda hitam yang dicatat sejarah atas nama Indonesia dan bukan hanya Kusumaatmadja seorang.

Karena ketika jenazah Arnold Ap dihantar menuju pemakaman, tentara tak sanggup menghalangi puluhan ribu orang Papua yang menumpahkan tangis di Abepura.

Mengenang Arnold Ap setiap 26 April, adalah momen untuk menggugat kekerasan militer di Papua sekaligus merajut kembali harapan kehidupan. Tuan Ap telah memberikan contoh bahwa dengan bernyanyi kita memberikan semangat pada hidup. Tanpa nyanyian, kehidupan menjadi kering kerontang.

Mengingat tersungkurnya Arnold Ap tiap 26 April adalah upaya mengingatkan diri bahwa Mambesak telah memberi bekal orang-orang Papua keberanian. Bukan hanya berani untuk berhadapan dengan kematian, namun juga berani hidup demi merawat harapan.

Harapan untuk dapat bangkit dan memimpin dirinya sendiri, di tanahnya sendiri. Hormat.

Wa… Wa… Wa…(*)

Sumber: https://kelung.com/mengenang-arnold-ap/

Tanpa RUU Permusikan pun, Arnold Clemens AP Dibunuh Negara

Sumber: https://www.kompasiana.com/

Musik sangat dekat dengan  masyarakat, entah itu pejabat, penjual bakso, hingga presiden (SBY buat album saat duduk di gedung putih) republik ini pun mengakui bahwa dia menggemari musik dengan distorsi keras. Musik merupakan sebuah bentuk sarana berekspresi, musik bukan hanya menjadi media yang bersifat menghibur namun dalam perjalanannya kerap digunakan sebagai tool untuk menyuarakan pikiran.

Tidak sampai disitu, musik juga di menunggangi oleh beberapa orang untuk menyuarakan pergerakan sosial, mulai dari pergerakan yang bersifat persuasif hingga pergerakan perlawanan yang acap kali berisi lirik kritik di dalamnya – marah kelakuan kekuasaan karena apa yang kekuasaan (pemerintah) terapkan adalah disconnected policy into civil society.

“Wind of Change” adalah lagu yang sempurna pada saat yang tepat untuk Scorpions – sebuah balada yang lebih ringan yang liriknya menangkap zeitgeist – lagu yang paling pas pada saat pergolakan politik  yang sangat besar, dan menjadi lagu untuk akhiri Perang Dingin. “Wind of Change” umumnya dikaitkan dengan jatuhnya Tembok Berlin – tetapi itu sebenarnya terinspirasi oleh berbagai peristiwa yang terjadi jauh sebelum Tembok mulai runtuh pada akhir 1989.

Lagu Wind of Change tercipta gara-gara pada pemberhentian tur ke Uni Soviet saat mempromosikan album Savage Amusement pada tahun 1988 – kunjungan yang seharusnya mencakup tanggal Moskow, katanya, dibatalkan oleh pejabat Rusia karena pemerintah Rusia berpikir – kalau mereka datang perfom, itu akan mungkin kerusuhan bisa terjadi. 

Band Scorpion itu akhirnya menambahkan tanggal tur ke tanggal berikutnya dan meskipun perjalanan tidak ternyata persis seperti yang mereka rencanakan, tapi mereka pergi dengan semangat. “Itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan untuk bermain di Rusia karena sejarah Jerman kami, kami melakukan begitu banyak hal buruk di Rusia sehingga kami ingin melakukan sesuatu yang baik, kami ingin menunjukkan kepada orang-orang di Rusia bahwa inilah generasi baru Jerman yang tumbuh dewasa, dan mereka tidak datang dengan tank dan senjata dan berperang – mereka datang dengan gitar dan rock ‘n’ roll dan membawa cinta!,” ujar gitaris Jerman Rudolf Schenker.

Dari sisi ini, band Scorpion ini mengakui bahwa ada sesuatu yang salah di antara dua negara itu seperti tadi disconnected into civil society. Makanya mereka mulai tebarkan suara perdamaian melalui dunia musik bergenre rock n roll dan musisi Jerman ini dengan senang hati menuju ke Rusia mau menyanyikan lagu berjabat tangan atau tanda bersaudaraan meskipun pemerintahan Jerman menjatuhkan nyawa terhadap orang-orang Rusia. Kalau kita umpan jauh-jauh ada juga lagu seperti Imagine – John Legend, 1 Love oleh Bob Marley. Ada banyak. 

Sebagai hasil buah pikiran manusia, tidak jarang musik diartikan sebagai hal yang beragam, sesuai bentuk ekspresi diri. Musik sebagai cinta atau permusuhan, sebagai kebahagiaan atau kesedihan, sebagai perdamaian atau bahkan peperangan. Itulah uniknya musik, setiap orang memiliki pemikiran berbeda terhadapnya.

Melirik ke Indonesia, ada juga lagu Pak Tua keluaran Elpamas yang akhirnya tidak diizinkan putar di TV karena Pak Tua diduga mengkritik Soeharto yang duduk bangku no. 1 Indonesia sangat lama sejarah Indonesia – 32 tahun. 

Bicara dunia permusikan dunia, tidak kalah penting juga datang dari Tanah Cendrawasih, Arnold Clemens AP namanya. Bila anda menanyakan seorang penjual pinang atau koran domestik harian di sekitar Jayapura dan sebut nama Arnold C. Ap, mereka akan dengan serta merta bilang Arnold C. AP adalah Papuans’ hero. Juga, Uncen (Universitas Cendrawasih) identik dengan Tuan Arnold C. AP. Kenapa, karena dia terkenal karya-karya musiknya – Mambesak. Dia seorang multitalenta di antaranya antropolog, musisi, budayawan, dan tentunya akademisi.

Arnold Ap lahir di pulau Numfor, Biak, 1 Juli 1945. la meninggal dunia pada tanggal 26 April 1984. Kepergiannya masih misteri sampai saat ini. la adalah tokoh seniman Papua di era 70-an sampai 80-an. Arnold dibunuh militer Indonesia lantaran kian populernya Mambesak, grup musik budaya Papua

Pada November 1983 dia ditangkap oleh militer Indonesia pasukan khusus (Kophasanda) yang sekarang berganti nama menjadi Kopassus dan dipenjarakan dan disiksa untuk tersangka simpati dengan Gerakan Papua Merdeka, meski tidak ada tuduhan telah dibebankan. Pada bulan April 1984, Arnold dibunuh oleh negara – tembakan ke punggungnya. Pernyataan ‘gombal’ resmi dari Pemerintah kanibal Indonesia menyatakan bahwa ia sedang berusaha melarikan diri. Tetapi ternyata Arnold Clemens Ap dieksekusi oleh Kopassus. Teman sebaya yang lain seperti musisi Eddie Mofu, juga ditembak mati.

Melaluinya ia bersama teman-teman kala itu mengangkat spirit orang Papua dengan nyanyian atau lagu pemersatu rakyat Papua. Dalam lagu-lagunya, Mambesak dinyanyikan tidak hanya satu bahasa di Tanah Papua, tapi mereka merangkul beberapa bahasa di Papua.

Yang terkenal dari kinerja studi budaya dan musik Papua yang dibangun Arnold Ap bersama group Mambesaknya dianggap oleh Pemerintah Indonesia sebagai sebuah tantangan terhadap upaya pemerintah Indonesia dalam memaksakan Nasionalisme Indonesia di Papua barat karena dengan adanya musik mambesak dan studi budaya yang dilakukan Arnold C Ap terbukti menumbuhkan Nasionalisme Papua dan penemuan jati diri/identitas orang Papua. Upaya yang dilakukan Arnold C. Ap adalah untuk menyatukan rakyat Papua barat.

Apa yang salah dengan musisi Arnold sampai dia di bunuh. Dia hanya merangkul eksistensi Papua menjadi satu bukan melawan negara. Memang benar Arnold sendiri merilis lagu terakhirnya sebelum dia meninggal dan di tuangkan pemikirannya bahwa “aku terkurung di dalam duniaku, tiada lain hanya kebebasan” berjudul “Hidup Ini Suatu Misteri”. Dia berhak praise dia punya tanah di tanahnya dia dan mengutuk orang-orang yang merampok psikologi orang Papua, makanya dia mengutarakan kemampuannya hanya untuk Papua dan orang Papua

Hal berekspresi melalui musik di Indonesia setelah reformasi (tidak termasuk tanah Papua ‘no reformation in Papua until now’), musisi tanah air beramai-ramai mengkreasikan ide-idenya melalui musik dan lagu-lagu tanpa ada pressure dari siapapun apalagi dari pemerintah setempat. Namun demikian, hal tersebut tidak diindahkan oleh Negara dalam hal ini DPR RI, tembusan dibawah payung pemerintahan JK.

Tidak salah juga kahwa para musisi ramai-ramai mengkritik Rancangan Undang-undang (RUU) Permusikan yang diusulkan oleh Komisi X DPR RI. Mereka menilai ada klausul yang rentan menjadi “pasal karet”.  

Disebut pasal karet atau catchall article karena ia tak memiliki tolak ukur yang jelas. Salah satu aturan karet yang cukup populer di Indonesia adalah UU ITE. Sudah banyak orang yang dipenjara karenanya, termasuk musisi Ahmad Dhani.

RUU Permusikan berisi pasal yang membatasi tumbuhnya musisi baru, membatasi proses berkreasi, dan rawan kriminalisasi terhadap musisi. Misalnya, Pasal 5 tentang larangan konten-konten tertentu dalam karya musik, seperti menistakan, melecehkan, dan menodai nilai agama, serta membawa pengaruh negatif budaya asing.

Sangat jelas itu membatasi musisi dalam menggali dan mengekspresikan idenya dalam pembuatan karya pada materi yang boleh dan tidak boleh sesuai pasal tersebut. Hal ini ertentangan dengan Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 yang menjamin kemerdekaan mengeluarkan pendapat.

RUU Permusikan secara tidak langsung akan membatasi ruang gerak para musisi, terutama untuk mereka yang bergerak di jalur independen. Kreativitas dan daya pikir masyarakat akan terus terkikis karena ruang geraknya telah dibatasi regulasi. kalau begitu apakah nanti Iwan Fals akan dipenjarakan? atau mati dibunuh oleh negara sama seperti musisi Papua tadi Arnold C. AP. Hal macam begitu bisa jadi juga karena observer atau pengamat politik salah satunya Rocky Gerung menilai kepemimpinan pemerintahan Jokowi saat ini adalah ada aroma-aroma orba (kalau Papua, Orba masih ada sampai saat ini).

Memang masih banyak musisi Indonesia terutama yang bergerak secara independen dan masih terus mengkampanyekan pikiran-pikiran mereka lewat musik. Seperti, Nosstres, Efek Rumah Kaca, Seringai, dst.

Namun, jika RUU ini diberlakukan, maka daya pikir kritis masyarakat saat ini menjadi berkurang, bukan tidak mungkin musik pergerakan akan hilang dan pergerakan-pergerakan sosial akan mati yang berdampak pada masyarakat yang mudah tergiring opininya serta berkurangnya fungsi kontrol sosial masyarakat terhadap pemerintah. Bukankah sudah saatnya kita membuka pikiran untuk melihat manfaat yang ditimbulkan dari adanya musik pergerakan? 

Tanpa RUU permusikan pun, Arnold Clemens AP dibunuh negara artinya masalah ini tidak perlu diperdebatkan karena bagi Papua, RUU macam ini sudah ada sebelum Mambesak, Arnold Clemens AP menjadi populer bahkan setelah aneksasi Papua ke pangkuan Ibu pertiwi. Benar kata-kata aktivis Papua biasa bilang bahwa Papua punya talented people killed by official government. that’s it.

Mambesak dan Spirit Kehidupan Bangsa Papua: Sebuah Refleksi

I Ngurah Suryawan

Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ngurahsuryawan@gmail.com

“Kita bernyanyi untuk hidup dahulu, sekarang dan nanti” (Mambesak)

Dalam sebuah pertemuan budaya di Kota Manokwari, Papua Barat pada akhir November 2010, saya merasakan ada kerinduan dari para pegiat seni dan budaya akan sebuah kebangkitan kembali kebudayaan Bangsa Papua. Hanya dengan seni dan budayalah orang Papua bisa menegakkan identitasnya. Kesan yang saya rasakan dalam pertemuan tersebut, jati diri orang Papua terletak pada ekspresi seni dan budaya, yang sayang sekali sering diputarbalikkan sebagai “politik” dan pemberontakan.

Perjalanan seni dan budaya di Tanah Papua penuh dengan kompleksitas yang melibatkan bukan hanya penetrasi politik tapi juga agama dan adat. Kesemuanya dibungkus melalui ekspresi seni untuk menunjukkan identitas diri dan kebudayaan yang ada di Tanah Papua. Pasang surut perkembangan seni di Tanah Papua salah satunya melibatkan campur tangan dari pemerintah dan agama. Bahkan salah seorang sesupuh seni di Kota Manokwari dalam pertemuan budaya yang saya ikuti mengungkapkan pernyataan, “Masuknya pemerintah dan agama yang menghancurkan budaya Papua.” Bagi pemerintah (baca: Belanda dan Indonesia), ketika rakyat Papua menyanyi dianggap ketinggalan zaman, dilarang dan dianggap ekspresi memberontak terhadap negara. Oleh karena itulah perlahan-lahan namun pasti budaya

orang Papua hilang.

Salah satu momentum ekspresi seni dan budaya Bangsa Papua adalah munculnya kelompok Mambesak pada 15 Agustus 1978 yang dalam bahasa Biak Numfor berarti Burung Cenderawasih atau burung kuning dengan tokohnya yang kemudian menjadi legenda, Arnold Clemens Ap. Melalui Mambesak inilah lagu-lagu dan tari-tarian daerah Papua dipentaskan oleh Arnold Ap, Sam Kapissa, Demyanus Wariap Kurni, Edy Mofu, Marthiny Md. Sawaki, Thonny W. Krenek dan yang lainnya. Pada saat itulah timbul bayangan akan kebangkitan seni dan budaya Papua seperti yang selalu diusung oleh Arnold Ap dan kawan-kawannya di kelompok Mambesak. Namun, bayangan akan kebangkitan seni dan budaya Papua itu tidak berlangsung lama saat Arnold Ap dibunuh oleh pasukan Koppasandha (kini Kopassus) pada 26 April 1984 di Pantai Pasir Enam.

Kini, setelah 30 tahun lebih, saya menyaksikan kembali bagaimana masyarakat dorang (mereka) kembali bergairah membicarakan Mambesak, meski sebelumnya ekspresi menyanyikan lagu-lagunya terbuka lebar di publik. Gairah tersebut bisa saya rasakan saat membicarakan “gerakan-gerakan sosial” yang telah dilakukan untuk menghadirkan seni dan budaya Papua sebagai jati diri, identitas diri Bangsa Papua. Dan kehadiran Mambesak selalu akan menjadi catatan penting.

Saya merasakan bagaimana ekspresi para pegiat seni ini ketika mereka berbicara tentang lagu dan tari sebagai bagian dari identitas diri mereka. Ekspresi dan pernyataan mereka mengungkapkan sejarah panjang kompleksitas budaya dan kekuasaan di Tanah Papua. “Kitong (kita) mengalami masa dimana tong merasa terancam hidup di republik ini. Pemerintah dong menganggap apa yang tong bicarakan selalu dianggap melawan pemerintah,” ungkap seorang pegiat seni dengan suara bergetar. Baginya, budaya merupakan bagian dari hidup orang Papua yang diekspresikan melalui lagu-lagu dan tari-tarian. Oleh pemerintah (baca: Indonesia), menyanyikan lagu-lagu daerah dianggap menentang pemerintah.

Heterogenitas etnik yang tinggi dengan masing-masing budaya, adat, dan seni menjadi kompleksitas tersendiri dalam membincangkan identitas budaya di Tanah Papua. Ini ditunjukkan dengan adanya lebih dari 253 bahasa. Masing-masing bangsa memiliki tradisi, konsep agama, struktur sosial dan kondisi geografis yang berbeda-beda. Ini juga termasuk budaya material dan bentuk ekonomi yang sudah tentu berbeda. Terdapat tiga wailyah geografis yang berbeda yang menentukan cara hidup rakyat Papua yaitu daerah pantai yang dihuni oleh nelayan dan pelaut; daetah pegunungan yang padat penduduk dengan iklim yang sehat dihuni oleh para petani; serta daerah tanah rawa yang sangat jarang penduduknya Heterogenitas adalah dasar dari sukubangsa Papua, demikian juga dasar dari Indonesia sendiri. Namun, perbedaan yang paling kentara adalah budaya-budaya di Papua tersebar daripada terpusat seperti yang terlihat pada budaya Jawa dan Bali.

Identitas bagi bangsa Papua sendiri awalnya berarti identitas sekelompok kecil: keluarga, desa kecil atau sekelompok kecil desa-desa. Identitas kelompok kecil atau pribadi itu didefinisikan melalui bahasa, tradisi mengenai keluarga, agama, budaya dan cara hidup secara umum yang biasanya berbeda dengan tetangganya. Masing-masing bangsa di tanah Papua mempunyai identitasnya masing-masing, yang ditunjukkan dengan menyatakan dirinya adalah manusia, orang-orang yang kemudian ditambahkan dengan nama desa atau sungai asal mereka. Pada tahun 1900 mulai berkembang identitas umum orang Papua yang kemudian pada tahun 1898 melalui pemerintah kolonial Belanda membentuk pusat pemerintahan di Manokwari. Melalui misi Kristen, masuklah para pengajar dan penginjil di pantai utara. Kontak yang terus menerus dengan orang asing menumbuhkan identitas Papua melebihi yang mereka alami sebagai kelompok kecil sebelumnya. Agama, dalam hal ini agama Kristen, ikut berperan dalam menumbuhkan identitas budaya Papua meskipun identitas sekelompok kecil Papua tetap utuh.

Identitas ke-Papuan-an tumbuh beriringan dengan sejarah pergolakan kekuasaan yang terjadi di Tanah Papua. Salah satu momen penting pentas kekuasaan terhadap tanah Papua terjadi pada tahun 1940-an hingga 1960-an. Saat itu terjadi Perang Dunia II yang berimpikasi kepada proses penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia termasuk di dalamnya Papua. Proses peralihan kekuasaan di Papua berujung kepada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Juli-Agustus 1969 yang menyatakan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, sejarah Papua setelah 1969 menunjukkan bahwa hasil Pepera itu justru menjadi salah satu akar konflik yang berkepenjangan.

Mambesak dan Nyanyian untuk Kehidupan [1] 

Sebelum terkenal dengan nama Mambesak, cikal bakal awalnya adalah sebuah grup band dengan nama Manyori (burung nuri) yang berdiri di Kampus Uncen (Universitas Cenderawasih) Jayapura dan mulai berkiprah di awal tahun 1970-an. Awalnya grup ini beranggotakan Arnold Ap yang ketika itu menjadi Kepala Museum Uncen, Sam Kapissa dan Jopie Jouwe. Pada tahun 1972, Band Manyori mengiringi lagu-lagu rohani di Gereja Harapan, Abepura yang kemudiang menggugah mereka untuk mulai mengembangkan lagu-lagu rohani dalam bahasa daerah mereka, dalam hal ini adalah bahasa Biak Numfor. Jelas saja hal ini awalnya mendapat tentangan dari tetua-tetua adat karena saat misionaris membawa pengaruh agama Kristen ke Papua, mereka mengkafirkan lagu, seni ukir, dan seluruh aspek kebudayaan di Papua, khususnya di kawasan Teluk Cenderawasih.

Grup Mambesak tercatat berdiri pada 15 Agustus 1978 dengan mulai mengisi acara hiburan lepas senja di halaman Museum Loka Budaya (Museum Antropologi) Universitas Cenderawasih Jayapura. Nama Mambesak dipilih baru ditetapkan mengganti Manyori pada penetapan pembentukan pengurus Mambesak. Nama ini dipilih karena dalam bahasa Biak-Numfor, mambesak berarti burung kuning atau burung cenderawasih, dihormati oleh semua suku-suku di seluruh Papua Barat sebagai mahkota kepala suku. Sedangkan Manyori yang berarti burung nuri dalam bahasa Biak-Numfor hanya merupakan burung suci bagi orang Biak-Numfor saja. Pada tanggal 17 Agustus 1978, Mambesak menampilkan lagu-lagu dan tari-tarian rakyat Papua hasil galian mereka di aula Uncen. Sejak saat itulah Mambesak kemudian secara rutin menyanyikan lagu dan tari-tarian budaya Papua di halaman museum Uncen, yang dijuluki sebagai “Istana Mambesak”.

Pada rapat pembentukan pengurus Mambesak tanggal 23 Agustus 1978, Arnold Ap terpilih sebagai koordinator. Marthinny Md. Sawaki sebagai sekretaris. Sam Kapissa sebagai penanggungjawab musik. Thonny W. Krenek sebagai penanggungjawab tari. Demianus Wariab Kurni sebagai penanggungjawab teater. Sampai pementasan terakhirnya yaitu pada tanggal 29 November 1983 di Kantor Gubernur Papua Barat hanya trio Arnold Ap, Mathinny Md. Sawaki dan Thonny W. Krenek yang bertahan menjadi pengurus Mambesak. Sam Kapissa kembali ke Biak dan kemudian aktif mengarang lagu  berbahasa Indonesia dan Biak serta mendirikan kelompok tari nyanyi Sandia. Sedangkan Demi Kurni di awal 1982 memisahkan diri dari Mambesak dan bersama Ausgust S. Ap, Sophie Patty, D.A Rumbewas dan Athen Tanaty mendirikan Teater Kristen Jayapura.

Awalnya grup Mambesak memang didominasi oleh pemuda Papua yang berasal dari kawasan Teluk Sairera (Teluk Cenderawasih), terutama adalah kebudayaan Biak Numfor tempat asal Arnold Ap dan Sam Kapissa. Namun, seiring dengan berkembangnya grup ini, mereka kemudian merekrut anggota yang berasal di luar Biak Numfor seperti Marthiny Sawaki (Waropen), Thony Wolas Krenek (Sorong) dan mulai aktif untuk menggali lagu-lagu, musik dan tari di luar dari kebudayaan Teluk Cenderawasih.

Media dalam hal ini adalah siaran radio adalah salah satu yang melambungkan nama Mambesak, terutama koordinatornya yang mempunyai talenta dalam berkesenian, Arnold Ap. Adalah Ignatius Suharno, ketua Lembaga Antropologi Uncen pada 1978 memberikan kepercayaan kepada Arnold Ap untuk menjadi penanggungjawab siaran Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di RRI (Radio Republik Indonesia) Studio Nusantara V Jayapura. Acara ini berlangsung setiap minggu siang, dibawakan oleh Arnold Ap dengan bendera Lembaga Antropologi Uncen. Program ini mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat Papua. Kunci keberhasilan siaran yang diampu Arnold Ap, Thony Krenek dan Constan P. Ruhukail adalah; penggunaan bahasa Indonesia logat Papua; pokok-pokok uraian tentang unsur-unsur kebudayaan Papua serta hal-hal aktual lainnya; selingan lagu-lagu rakyat serta mop-mop (cerita lucu) yang dibawakan oleh pembawa acara yang adalah anggota Mambesak.

Selain media siaran radio, Mambesak begitu banyak dikenal juga karena penjualan lima volume kaset rekaman yang berisi lagu-lagu daerah Papua. Hasil dari penjualan kaset rekaman inilah yang menghidupi grup ini. Usaha merekam lagu-lagu daerah Papua mulai dilakukan oleh grup Mambesak pada tahun 1980. Promosi kaset ini juga dilakukan oleh Arnold Ap dan kawan-kawannya di Mambesak selama siaran Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di RRI Nusantara V Jayapura.

Pertunjukan Mambesak sendiri berlangsung berpusat di wilayah Port Numbay (Jayapura) daerah-daerah lainnya di Papua. Pada hari-hari tertentu, Mambesak tampil dalam acara panggung gembira di halaman RRI yang selalu dipadati oleh pengunjung. Grup Mambesak juga pernah tampil di Biak dan Nabire pada tahun 1981. Instrumen yang mereka gunakan selama pertunjukan adalah tifa, suling, gitar dan ukulele. Arnold Ap selain sebagai penyanyi utama dan menceritakan mop, secara bergantian ia akan memainkan gitar dan memetik ukulele. Para penyanyi Mambesak menggunakan kostum berwarna kuning coklat seperti jenis Cenderawasih yang populer di pantai utara. Sedangkan para penari memakai cidoko (cawat) atau rok rumbai-rumbai dengan dekorasi pada tubuh, sesuai dengan kelompok etnis yang mereka peragakan gerak dasar tarinya.

Macx Binur (2005) dalam sebuah laporannya menuliskan, musik, lagu dan tari adalah spirit manusia Papua, dengan itulah mereka berbicara. Menurutnya, untuk mengerti kekuatan musik dan tari di Papua Barat, dibutuhkan pemahaman tentang perjuangan demi identitas orang Papua. Dalam tekanan mendalam, musik dan tari menjadi bagian yang menggelorakan jati diri Papua, suatu identitas yang selama ini berusaha diberangus. Tetapi segala ekspresi yang mencerminkan identitas sejati orang papua justru dilarang. Pemerintah Indonesia seolah tidak menghendaki seorang dengan diri “Papua”, melainkan seorang “Irian” yang loyal. Dalam kenyataannya, “diri Irian” hanyalah khayalan dan identitas sesungguhnya tak pernah beranjak dari diri seorang “Papua”.

Setiap lagu dan tari memancarkan keyakinan dan harga diri seorang Papua. Untuk memahaminya, kita harus menyelami ke dalam lagu dan tari itu sendiri, dan kita akan mulai mengerti sesuatu tentang Papua. Lewat lagu kebudayaan diangkat, dan hidup rakyat dimuliakan. Lirik dan ragam yang memuja misteri serta kemolekan alam Papua, menyatakan kembali legenda dan tradisi, memberikan pengetahuan dan kearifan, juga ratapan, tawa, dan kegalauan. Berbisik tentang keseharian hidup, perjuangan serta harmoni kebersamaan. Lagu menjadi lem perekat jiwa, spirit, dan mengobarkan kembali identitas melalui tradisi oral. Sebagaimana hidup rakyat, setiap kata lahir dari palung hati mereka, memancarkan hasrat personal terhadap situasi sekelilingnya. [2]

Lagu-lagu Mambesak selain berisi protes sosial seperti lagu “Mars Papua” yang dikutip di awal artikel ini, juga memuat syair tentang kecintaan dan kekaguman terhadap alam Papua. Namun menurut Macx Binur (2005), bagi orang Papua, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Mambesak penuh makna karena dinyanyikan dalam bahasa tanah (asli) dan dengan dialek maupun cara yang khas masing-masing suku. Salah satu lagu rakyat Biak yang dinyanyikan Grup Mambesak berjudul Awin Sup Ine  menyatakan rasa bangga pada alam Papua:

Orisyun isew mandep fyarawriwek

Nafek ro masen di bo brin mandira

Napyumra sye napyumda ra nadawer

Makamyun swaro beswar bepondina

Ref

Awino kamamo sup ine ma

Yabuki mananis siwa muno

Yaswar I na yaswar I sof fioro

[Dalam cahaya gemilang, sinar mentari melukis keindahan di langit,menggelorakan pandangan & perasaan saat ini, tak ada yg dapat menolong, kecuali dengan mengingat kembali peristiwa manis masa lalu dan menghayati rasa cinta yang mengikat kita

pada tanah ini].

Kebangkitan budaya Papua yang coba disemaikan oleh Mambesak sebenarnya dipicu dari ancaman kepunahan salah satunya disebabkan penetrasi agama kristiani yang menginjilkan orang Papua dan memberangus budaya lokal orang Papua. beberapa seni budaya Papua mengalami penaklukan karena dianggap sebagai artikulasi paham animis, bahkan disebut kafir (misalnya seni Wor Biak). Upacara tradisi kultural dalam skala besar hanya mampu bertahan hingga tahun 1950. Perkembangan selanjutnya, Katholik dan Protestan saling berlomba dalam merebut wilayah dan umat (manusia Papua) untuk di-Kristenkan berdasarkan theologi barat. Misi ini disertai dengan penerapan larangan-larangan kepada masyarakat untuk tidak mengekspresikan seni dan budayanya. Pengkaplingan wilayah pendudukan agamapun terjadi di Papua, dimana Kristen Protestan mendapatkan jatah meliputi hampir sebagian daerah pesisir pantai utara dan pinggiran pegunungan. Sedangkan Kristen Katolik merambah wilayah pegunungan tengah dan selatan hingga sebagian kepala burung, berdampingan dengan Islam yang berkembang di kepulauan Raja Ampat dan Fakfak (Binur, 2005).

Seorang seniman senior di Manokwari mengisahkan, saat memperoleh kesempatan tugas belajar di Universitas Cenderawasih sempat bersentuhan dengan grup Mambesak. Sebagai salah satu saksi sejarah Mambesak, ia mengakui bahwa kelahiran awalnya adalah dari Ikatan Keluarga Biak Numfor dengan Arnold Ap yang paling menonjol di dalamnya. Para mahasiswa yang tergabung dalam ikatan keluarga tersebut rata-rata berbakat memainkan alat musik dan menciptakan lagu-lagu daerah yang hebat. Dari sinilah muncul keinginan mendirikan grup musik yang sebelumnya bernama Manyori.

Setelah Manyori dikenal, maka muncullah tawaran dari orang-orang Biak yang ada di Jayapura untuk mengisi acara-acara, salah satunya adalah acara pernikahan adat. Grup Manyori saat itu diminta untuk mengisi acara dengan menyanyikan lagu-lagu daerah Biak Numfor. Pada awalnya, kehadiran Manyori dalam pernikahan adat ini ditentang oleh tetua-tetua adat, namun lambat tapi pasti mereka kemudian bisa menerima grup Manyori menyanyikan lagu-lagu daerah Biak Numfor dan Serui.

Lagu-lagu yang mereka mainkan pada awalnya adalah lagu-lagu dalam Bahasa Biak saja. Setelah Mambesak berkembang dan dikenal masyarakat Papua di Jayapura, mereka kemudian melebarkan sayapnya untuk menggali kembali lagu-lagu daerah dan tarian di luar kebudayaan Biak. Kritik dari Ignatius Suharno, kepala Lembaga Antropologi Uncen, bahwa Mambesak jangan hanya Biak sentris direspon oleh Arnold Ap dan kawan-kawan. Mereka kemudian mulai merekrut anggota baru seperti Yuslina Monim, Weles Krenek, Marthiny Sawaki (Waropen), dan daerah lainnya di Papua.

Upaya Arnold Ap dan kawan-kawannya di Mambesak untuk menggali seni musik dan tari-tarian Papua diwujudkan dengan mengisi liburan mahasiswa untuk pulang ke kampung halaman untuk mencari lagu dan tari-tarian untuk kemudian diarangement, di tata kembali, dikembangkan, dikemas sebagai materi pementasan Mambesak. “Arnold Ap biasanya akan menugaskan teman-temannya untuk mencari lagu di kampung dan membawanya ke Uncen. Kemudian nanti bersama-sama mereka akan menunjukkan lagu-lagu atau tari-tarian yang didapatnya dari kampung. Arnold dan Sam (Kapissa) biasanya akan melihatnya, menyimaknya dengan serius sambil ukulelenya sesekali bersuara,” kisah seniman senior ini yang saya temui di studionya di Kota Manokwari.

Di dalam grup Mambesak sendiri, ada istilah turun ke kampung bagi anggota-anggotanya  untuk mencari lagu-lagu daerah. Kemudian sesampainya di Uncen, setiap anggota akan menyanyikan lagu-lagu yang didapatnya dari kampung dan memeragakan gerakan-gerakan tari. Pada saat itulah Arnold Ap ditemani oleh Sam Kapissa akan merekam lagu-lagu tersebut dan diaransemen ulang. Eddy Mofu bertugas sebagai teknisi. Alat yang digunakan untuk merekam lagu-lagu pada saat itu sangatlah sederhana dengan tape recorder biasa. Setelah selesai merekam, Eddy Mofu biasanya akan menunjukkan hasilnya untuk kemudian diaransemen kembali oleh Arnold Ap, Sam Kapissa dan anggota Mambesak lainnya. Secara bergantian, Arnold Ap dan Sam Kapissa akan memainkan melodi gitar untuk aransemen lagu tersebut. Eddy Mofu akan memainkan ukulele dan anggota lainnya mengikuti dengan memainkan tifa secara bergantian dan bass.

Arnold Ap adalah pemain gitar melodi yang halus sekali, selain bermain ukulele dan tentunya membawakan mop-mop Papua yang memang menjadi keahliannya. Pada suatu kesempatan Arnold Ap mengungkapkan, “Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh, tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.” [3] Bagi Arnold Ap dan Membesak, dengan bernyanyi kita memberikan spirit pada hidup. Jika tidak ada nyanyian, juga tidak ada kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Aditjondro, George Junus.

2000                Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Elsam

Binur, Macx,

2005                “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli – September 2005

Chauvel, Richard.

2005                Consctructing Papua Nationalism: History, Etnicity and Adaptation. Washington: East-West Center

Yoman, Socratez Sofyan.

2005                Orang Papua Bukan Separatis, Makar dan OPM. Papua Barat: Lembaga Rekonsiliasi Hak-hak Asasi Masyarakat Koteka (Lehamkot) Papua Barat.

Yoman, Socratez Sofyan.

2010                Integrasi Belum Selesai: Komentar Kritis atas Papua Road Map. Jayapura: Cenderawasih Press

Widjojo dkk, Muridan.

2009                Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Past and Securing the Future. Jakarta: Buku Obor, LIPI dan TIFA.

[1] Sebagian besar bagian ini bersumber pada Bab IV “Pribumisasi versus Westernisasi: Gema Mambesak: Identitas Kultural Bumi Kasuari” (h. 109-137) dalam Dr. George Junus Aditjondro, Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia. (Jakarta: Elsam, 2000)

[2] Lihat laporan Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli – September 2005

[3] Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli – September 2005

MAMBESAK dan BLACK BROTHERS : Group Band Inspirator

Sewaktu pergerakan perlawanan dibawah tanah (dalam kota) yang diprakasai oleh budayawan Alm. Arnold Ap, para seniman sering berbicara sekitar pembangunan jiwa nasionalisme Papua atas generasi muda Papua. Dari sana lahirlah kedua icon perjuangan Papua, yaitu MAMBESAK dan BLACK BROTHERS.
Setelah kegiatan-kegiatan kedua group music mulai tercium oleh intelejen penjajah, maka Black Brothers ditugaskan oleh Markas Victoria dibawah pimpinan Jendral Seth J. Rumkorem untuk menyelundupkan kedua pelaku sejarah, yaitu Alm Bpk Eliezer Yan Bonay, dan Alm. Dirk Samuel Ayamiseba, masing-masing selaku Gubernur pertama dan Ketua DPRD-GR pertama.Mereka bersama group band itu menyelamatkan diri ke luar negeri, dan lebih banyak mengambil bagian dalam Gerakan Papua Merdeka. Dalam pengasingan di Belanda, OPM menugaskan Black Brothers utuk membangun basisnya di Vanuatu bersama Rex Rumakiek. Mereka telah berhasil membangun basis dan telah didirikan sejak tahun 1983 sampai dengan hari ini. Black Brothers juga punya asumbansi dalam memberikan dukungan lewat music untuk mendirikan negara Vanuatu.

BLACK BROTHERS : Group Band Inspirator.

Lirik lagu-lagu itu terus mengalir dan terkenang di hati rakyat Papua sampai kini. Melodinya yang manis, filosofis, dan harmonis, adalah ciri khas dan gaya tersendiri. Black Brothers juga mengunakan instrumen tiup (brass-wind instrument) sehingga lebih berwarna selain itu dari sisi suara Ada vokalis utama, pemusik lain ikut membentuk suara latar. Itulah keunikan sehingga banyak orang Indonesia bahkan manca negara mengagumi. BB sangat unik dan senang didengarkan karena mereka memainkan banyak aliran music yakni; beraliran pop, rock, funky blues, Jaz, Reggae dan juga keroncong. Black Brothers layak dicatat di buku sejarah musik pop Indonesia. Sewaktu mereka berada di luar, mereka juga menyanyikan banyak lagu lirik dan nada dapat ditiru oleh artis lainya.
Penyanyi-penyanyi yang dihuni oleh orang-orang dari timur (manado, Ambon dan Papua) yang melandaskan gaya perjuangan baru dan mengharumkan nama Papua itu telah hilang satu persatu. Ada yang termakan usia, sakit dan juga karena dibunuh secara halus. Mereka adalah Hengky Sumanti Miratoneng, salah satu yang mendirikan Black Brothers pada tahun 1975 bersama Yochi Patipeiluhu (keyboard), Stevy Mambor (drummer), Amrey Kaha (saxophone), Agus Rumaropen (guitaris), Benny Betay (bassis).
Black Brothers adalah salah satu Group inspirator yang hidup dan menunjukan jati diri Bangsa Papua namun saat ini mejadi angan-angan bagi setiap musisi di Papua yang tidak mampu menciptakan dan melanjutkan perjuangan yang dilakukan Black Brothers. Banyak musisi saat ini yang terjebak dengan Programer Keyboard yang sangat miskin kreatifitas yang menciptakan individualismes dan sangat jauh dari kwalitas group music. Padahal musik adalah napas dalam jiwa yang terekam melalui panca indra yang kemudian di latunkan dalam sebuah syair dan instrument (makna filosofis). BB Mampu menerjemahkan jiwa dan napas bangsa Papua yang di masa tahun 1970-an di jajah melalui praktek kekuasaan Negara yang kejam melalui kebijakan-kebijakan yang beraroma Militerisme. Banyak makna dari setiap lirik BB yang menceritakan kebebasan, keadilan, dan kemanusian.
Perkembangan peradaban Musik merupakan ukuran suatu bangsa dalam melihat perkembangan masyarakat. Papua saat ini mengalami degradasi ( kemunduran ) kreativitas seni musik yang bisa di katakan parah, karena minimnya regenerasi. BB Cuma dijadikan sejarah dan cerita dari masa ke masa, namun tidak menjadi inspirasi bagi generasi Papua saat ini untuk membuat banyak group musik yang lebih hebat dari masa BB dulu. Inilah titik kemunduran generasi saat ini, banyak group musik yang muncul tetapi tidak mampu menciptakan performa musik sesuai dengan perkembangan budaya dan Zaman. Munculnya komunitas-komunitas musik baik tradisional maupun yang modern saat ini cenderung lebih meniru budaya bangsa lain( pemahaman sempit dalam meniru jenis/ aliran musik tertentu sperti;reggae, jazz, pop, blues, dll)
Minimnya ruang-ruang yang diciptakan oleh pencinta seni musik merupakan salah satu faktor terhambatnya kebangkitan peradaban musik di tanah Papua saat ini. Strategi membangun seni musik dalam sebuah Group band adalah kesadaran membangun suatu organisasi yang mempunyai program dan menghargai setiap individu yang ada didalamnya. Program tersebut lahir dari peradaban budaya dan perilaku perkembangan masyarakat Papua saat ini, sehingga akan muncul ide-ide kreatif dalam membuat syair/lirik dan menentukan jenis musik sehingga musik tersebut memiliki jiwa yang memberikan pesan-pesan kepada generasi berikut. BB dimasanya mampu menemukan bentuknya, Bagaimana dengan generasi saat ini?

(@rastamaniapapua)

Hello world! Grup Mambesak, Burung Kuning

Grup Mambesak atau dalam bahasa Biak Numfor berarti burung Cenderawasih atau burung kuning. Tidak terlalu terkenal di Indonesia, setenar Black Brothers akan tetapi grup musik Mambesak bagi rakyat Papua adalah merupakan simbol dan kebangkitan seni budaya Papua.

Grup ini sangat ditakuti oleh penguasa waktu itu, karena platform politik melarang identitas lokal dimunculkan atas nama NKRI kesatuan bangsa, bahasa dan negara Indonesia. Akibatnya apa yang dilakukan oleh Mambesak dianggap pemerintah Indonesia sebagai membahayakan kesatuan dan persatuan Indonesia. Oleh karena itu pemimpinnnya dibunuh oleh aparat Tentara Republik Indonesia pada tanggal 26 April 1984. Baca Lebih Lanjut di sini tentang alasan pembunuhannya.

Pada era kejayaanya, Mambesak di motori oleh Arnold Clemens AP, Eddy Mofu, Sam Kapisa, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki. Ide dasar terbentuknya grup ini adalah untuk mengangkat kesenian rakyat Papua yang berakar pada lagu-lagu dan tarian rakyat, dan menampilkannya dalam bentuk nyanyian dengan peralatan Ukulele (gitar kecil), Tifa (kendang khas Papua), Bass, dan Gitar. Arnold C. Aap, seorang tokoh antropolog dan pemerhati musik dan budaya Papua yang dalam sejarahnya merintis sebuah group musik “MAMBESAK” dengan melagukan lagu-lagu daerah asli era tahun 70-an dari berbagai bahasa daerah di Tanah Papua, menjadi sebuah sosok yang patut di contohi oleh generasi muda negeri ini.

Kehadiran Mambesak kala itu disambut antusias rakyat Papua yang membayangkan identitas budaya mereka. Kebangkitan budaya Papua yang lama terpendam sempat muncul pada tahun 1970−1980-an, ketika Arnold Ap dan Grup Mambesak-nya begitu terkenal di seluruh Papua. Lima volume kaset Mambesak yang berisi reproduksi dan rearrangement lagu-lagu daerah Papua berulang kali habis terjual dan diproduksi kembali. Siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk dari Mambesak di Studio RRI Nusantara V Jayapura setiap hari Minggu siang sangat populer pada era tersebut.

Salah satu ciri khas grub ini, pementasan mereka juga diselingi dengan mop (guyonan) khas Papua) yang dibawakan oleh Arnold Ap. Dalam setiap penampilannya, selain menyanyikan lagu dan menari, Mambesak juga menggunakan logat bahasa Indonesia dialek Papua dan menguraikan beberapa unsur-unsur kebudayaan

Mengenang 33 Tahun Kematian Arnold Clemens Ap

Saya bukan seorang Pengamat Sosial atau Sosiolog, Saya bukan Seorang Pengamat Politik, Saya bukan Seorang Budayawan atau Antropolog, Saya bukan Seorang Musisi atau Musikolog, tetapi Saya hanya penulis Sejarah“.

Kematian seseorang sangat menyedihkan bagi keluarga dekat dan sanak saudaranya karena keterlibatan sosial dalam kehidupan manusia seperti kita ketahui dalam ilmu sosiologi bahwa manusia tak bisa hidup sendiri karena manusia bukanlah sebuah pulau yang bisa hidup ditengah lautan.

Dengan keterlibatan sosial inilah manusia mengenang kisahkisah baik yang pernah dibuat selama masih hidup didalam kehidupan manusia di dunia. Selama kita masih hidup dimana saja kita berada, kita diberi kebebasan oleh Allah untuk berkarya sesuai talenta yang telah diberikan kepada kita masing-masing. 

Oleh karena itu, melalui talenta yang melekat pada manusia dapat kita implementasikan dengan cara mengagitasi, mengorganisir, mengarahkan, menyusun, merencanakan, dan membuat sesuatu sesuai talentanya. Talenta pada manusia berbeda-beda, ada yang bermain sepak bola, bola volley, bola futsal, bulu tangkis, tenis meja,  dan ada yang bisa bermain musik biola, gitar, drum, piano, harmonika, dan keyboard.

Salah satu Pengembangan talenta dalam bidang Seni Papua yakni “MAMBESAK” yang di pelopori oleh Arnold Clemens Ap, dkk., pada tahun 1972 di Jayapura. “MAMBESAK” ini dapat dikenang hingga sekarang karena gerakan mahasiswa yang bergerak dibidang seni dan budaya ini dimulai dari gereja-gereja, panggung musik hingga terakhir di RRI nusantara lima Jayapura. 

Pada perkembangannya, Arnold Clemens Ap, dkk., melalui “MAMBESAK” dapat menyita perhatian dari seantero masyarakat Papua dengan tumbuh dan berkembang subur sehingga pada tanggal 15 Agustus 1978 dijadikan sebagai hari Lahirnya “MAMBESAK”. 

Awal mula mendirikan Grup Musik dari Tanah Papua yang bernama “MAMBESAK” ini dengan tujuan untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang diintimidasi, dianiaya, diperkosa, dan dibunuh diatas Tanahnya Sendiri oleh aparat Militer yang bertugas di Papua maka Arnold Clemens Ap, dkk., dikenal sebagai Budayawan.

Grup Musik “MAMBESAK” banyak memberikan inspirasi yang kuat dan telah membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Papua sehingga pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahaya atau Separatis. Lalu, pada bulan Januari 1980 pimpinan Grup Musik “MAMBESAK” dituduh sebagai OPM Kota yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua.

Tuduhan itupun, semakin hari semakin membesar dikalangan Militer Indonesia di Papua hingga pada 11 November 1983 Pimpinan Grup Musik itupun ditangkap oleh Militer Indonesia. Hanya lima bulan dipenjara, Arnold Clemens Ap, dibunuh oleh Pemerintah Indonesia melalui Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura. Kematian, sang Budayawan Arnold Clemens Ap, masih misterius hingga sampai hari ini.

Pembunuhannya diatur dengan skenario melarikan diri setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold Clemens Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi lebih dahulu justru ditembak mati. Selain Arnold Clemens Ap, rekannya Eduard Mofu, juga dibunuh Jenazahnya ditemukan terapung dipermukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Sekitar 800-an Masyarakat Papua melakukan pelarian ke Perbatasan Indonesia-PNG sebagai bentuk protes mereka atas sikap tidak manusiawi dari Indonesia terhadap bangsa Papua Barat. Pada hari yang sama sekitar 300-an masyarakat Papua melakukan “long march” mengantarkan mayat Alm. Arnold Clemens Ap, dari Kota Jayapura menuju Tanah Hitam (TPU).

Momentum 26 April adalah momen bersejarah bagi rakyat PapuaBarat dimana kematian sang budayawan, yang berhasil mempersatukan kurang lebih 256 suku yang mendiami di pulau Papua melalui Grup seni Musik “Mambesak” yang digalang oleh Arnold C. Ap, Sam Kapisa, dan kawan-kawannya.

Source: https://www.kompasiana.com/

Arnold Ap, Mambesak dan Identitas Papua

oleh Raka Ibrahim

Arnlod C. Ap
Arnlod C. Ap

PADA tanggal 21 April 1984, lima orang tahanan diminta melangkah keluar penjara oleh seorang polisi. Satu per satu, tahanan yang kebingungan itu digiring masuk mobil, yang disupiri dan dijaga ketat oleh pria-pria berwajah garang. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa garong-garong penjaga itu adalah anggota Kopassandha – satuan khusus yang nantinya berubah nama menjadi Kopassus. Perjalanan itu usai di pinggir pantai Pasir Enam, arah Timur dari Jayapura, kota terbesar di Papua.

Kejadian berikutnya simpang siur. Aktivis Carmel Budiardjo menulis bahwa salah satu tahanan tersebut berhasil kabur, dan mengisahkan nasib keempat kawannya.[1] Seorang tahanan, Eddy Mofu, digorok lehernya dan dibiarkan mati mengapung di laut. Sisanya disuruh berenang menghampiri sebuah kapal, lantas bersembunyi selama empat hari dalam sebuah gua. Pada tanggal 26 April, seorang tahanan melongok keluar gua untuk buang air kecil. Tanpa ia sadari, gua itu sudah dikelilingi pasukan Kopassandha bersenjata lengkap. Ia mati diberondong peluru.

Pada Juni 1984, Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja menerangkan dalam sebuah konferensi pers bahwa tahanan bernama Arnold Ap dicegat di laut saat mencoba melarikan diri dari penjara menggunakan perahu. Katanya, perahu tersebut tak mau menyerah saat dikepung Patroli, dan Arnold gugur dalam baku tembak yang terjadi setelahnya. Mengingat situasi dan kondisi yang ada, aparat tak punya pilihan lain selain untuk menembak mati Arnold. Lebih lanjut lagi, Kusumaatmadja berujar bahwa Arnold adalah seorang “separatis OPM” (Organisasi Papua Merdeka – red) Tutup buku, habis perkara. Sementara itu, di Abepura, aparat tak kuasa mencegah puluhan ribu orang mengiringi jenazah Arnold ke pemakaman.[2]

Sejak pertengahan tahun 1970-an, Arnold Ap dan kelompok seninya telah jadi duri dalam daging bagi pemerintah Indonesia. Terbentuk pada 15 Agustus 1978, Mambesak (dari bahasa Biak yang berarti Cenderawasih) adalah kelompok seni yang awalnya hanya beranggotakan mahasiswa dan akademisi iseng di jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih, Jayapura. Anggota-anggota Mambesak dipersatukan oleh kecintaan mereka pada seni dan budaya tradisional Papua, serta kesadaran mereka bahwa budaya tersebut mulai dilupakan oleh generasi muda.

Namun, mereka pun paham bahwa pemerintah yang berkuasa pada waktu itu memang sengaja berusaha mengikis budaya tradisional Papua. Sejak awal, bergabungnya Papua dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbilang berantakan. Referendum tahun 1969 untuk menentukan nasib Papua dimenangkan oleh pihak pro-integrasi, namun prosesnya dianggap bermasalah dan hasilnya tidak diterima masyarakat. Kemarahan ini berujung pada dibentuknya organisasi separatis seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), dan semakin ketatnya pengawasan pemerintah. Siapapun yang mempertanyakan atau menentang kebijakan pemerintah di Papua dengan mudah dituduh OPM dan separatis. Termasuk Mambesak.

“Segala ekspresi yang mencerminkan identitas sejati orang Papua justru dilarang.” Tulis antropolog I Ngurah Suryawan.[3] “Pemerintah Indonesia seolah tidak menghendaki seorang dengan diri ‘Papua’, melainkan seorang ‘Irian’ yang loyal.” Oleh karena itu, segala bentuk kebudayaan tradisional Papua – mulai dari musik, tari-tarian, cerita rakyat, hingga lelucon – dianggap sebagai pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Dalam logika Orde Baru, membiarkan seni tradisional Papua sama dengan memberi ruang bagi sentimen-sentimen pro-kemerdekaan untuk berkembang. Papua, menurut mereka, mesti diseragamkan dan dibikin berkiblat pada Jawa agar ia tidak terpikir untuk memerdekakan dirinya sendiri.
DALAM situasi seperti inilah Mambesak dibentuk. Pada mulanya, mereka menamakan diri Manyori (burung nuri) dan jadi langganan di pesta-pesta perkawinan dan malam budaya di Universitas Cenderawasih dan sekitarnya. Baru pada tahun 1978, mereka berganti nama menjadi Mambesak dan mulai menajamkan pemikiran politiknya. “Dalam Mambesak, ada istilah ‘turun ke kampung’ bagi anggota-anggotanya untuk mencari lagu-lagu daerah.” Tulis Suryawan. Para anggota Mambesak sepakat untuk mengisi waktu luang dan liburan kuliahnya untuk pulang ke kampung halaman, dan mencari lagu dan tari-tarian tradisional yang mulai dilupakan. Lagu dan tarian itu pun kemudian diaransemen ulang dan dibawakan kembali oleh Mambesak di konser-konsernya. Latar belakang para anggota Mambesak, yang banyak diisi mahasiswa dan sarjana antropologi, membuat mereka memiliki naluri dan keinginan luar biasa untuk menggali musik-musik daerah.

Selain Arnold, kelompok itu juga diisi oleh Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Marthinny Sawaki, dan beragam seniman yang bergantian keluar masuk Mambesak. Arnold, bersama Kapissa, bertanggungjawab untuk menemukan dan mengaransemen ulang musik tradisional. Thonny W. Krenek didapuk untuk mencari dan mendokumentasikan tari-tarian tradisional. Sementara Demianus Wariab Kurni diangkat sebagai penanggungjawab teater. Bermula dari konser-konser kecil di lingkungan kampus Universitas Cenderawasih – di mana Arnold menjabat sebagai ketua Museum Antropologi – Mambesak mulai digandrungi oleh masyarakat Papua yang rindu mendengar lagu-lagu dari tanahnya sendiri.

Berbekal tifa, suling, gitar dan ukulele, Mambesak menjadi salah satu raja panggung di Jayapura. Lagu-lagu tradisional Papua yang mereka bawakan dengan gaya folk selalu disambut oleh koor massal yang ikut bernyanyi. Dengan alat musik seadanya, mereka sukses menghipnotis penonton konser mereka yang makin lama makin membludak. Pentas mereka yang meriah tak hanya diisi oleh penampilan musik. Lagu-lagu mereka diselingi penampilan tarian tradisional dari berbagai daerah, dan celetukan mop (lelucon tradisional Papua) dari Arnold.  “Para penyanyi Mambesak menggunakan kostum berwarna kuning coklat seperti jenis Cenderawasih yang populer di pantai utara.” Tulis Suryawan. “Sedangkan para penari memakai cidoko (cawat) atau rok rumbai-rumbai dengan dekorasi pada tubuh, sesuai dengan kelompok etnis yang mereka peragakan gerak dasar tarinya.”
PADA saat bersamaan, Arnold dan kawan-kawan Mambesak lainnya diajak untuk mengasuh siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di Studio RRI Nusantara V, Jayapura. Setiap Minggu siang, Arnold bersama Thonny W. Krenek dan Constan P. Ruhukail membawakan siaran di bawah bendera Lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih. Dengan bahasa Indonesia logat Papua, kisahkisah tentang budaya tradisional Papua, selingan lagu-lagu rakyat dan mop yang dibawakan pembawa acara, program ini membuat Mambesak semakin terkenal di tanah Papua. Lima volume kaset rekaman lagu-lagu daerah Papua yang mereka rekam sendiri pun laku keras, dicetak ulang berkali-kali, dan dipromosikan habis-habisan melalui program radio mereka.

Tenarnya Mambesak jelas membuat aparat gerah. Meski mereka tak pernah membuat lagu-lagu politik yang se-‘keras’ Iwan Fals, fakta bahwa kelompok ini berani mencoba melestarikan budaya Papua sudah dianggap bentuk pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Pada tanggal 29 November 1983, Mambesak tampil di kantor Gubernur Papua Barat. Hanya berselang sehari, Arnold Ap dan empat orang lainnya – di antaranya anggota Mambesak – ditangkap oleh pasukan dari Kopassandha atas tuduhan subversi.

Selama berbulan-bulan setelahnya, Arnold Ap menghilang dari peredaran. Rektor Universitas Cenderawasih mengumumkan bahwa ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai kurator Museum kampus, juga karena tuduhan subversi. Ketika koran Sinar Harapan melaporkan bahwa keluarga Arnold tidak diizinkan menghubungi Arnold di tahanan, redaksi mereka ditegur secara langsung oleh pemerintah.
SETELAH ditahan dan diinterogasi selama 3 bulan, Arnold Ap mendadak muncul lagi. Pada tanggal 14 April 1984, ia terlihat berkeliling di area kampus Universitas Cenderawasih di bawah penjagaan ketat dari aparat. Hanya berselang sepekan kemudian, pemerintah melansir pengumuman yang mengejutkan: Arnold Ap telah kabur dari tahanan bersama empat orang lain. Ia dinyatakan buron.

“Namun, rupanya aksi ‘kabur dari tahanan’ itu adalah rekayasa pemerintah.” Tulis Carmel Budiardjo. “Seorang opsir dari Brimob, yang kemudian lari ke Papua Nugini, mengaku bahwa otoritas militer menganggap Arnold ‘sangat berbahaya karena aktivitasnya bersama kelompok Mambesak dan ingin ia dihukum mati atau penjara seumur hidup, namun tak berhasil menemukan barang bukti yang cukup.’” Buntu di jalur hukum, Arnold akhirnya dihabisi secara diam-diam.

Ketika ia ditembak mati pada 26 April 1984, ia tengah menunggu perahu bermotor yang hendak mengantarkannya ke Vanimo, Papua Nugini. Di sana, anak dan istrinya telah mengungsi sejak Februari dan menunggunya.

Ia tak pernah tiba. “Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh,” ucap Arnold. “Tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.”[4]


Daftar Referensi

Carmel Budiardjo (2008), “Arnold Ap and Theys Eluay”, Insideindonesia.org, diakses pada 26 September 2016 (http://www.insideindonesia.org/arnold-ap-and-theys-eluay)

Numbay Media (2014), “Arnold Ap’s Sup Mowiya”, Engage Media, diakses pada 26 September 2016 (https://www.engagemedia.org/Members/numbaymedia/videos/arnold-ap-sup-mowiya)

I Ngurah Suryawan (2011), “Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970−1980-an”, Universitas Udayana, diakses pada 26 September 2016 (http://etnohistori.org/ukulele-mambesak-membayangkan-identitas-budaya-papua-1970-1980-an.html)

Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli−September 2005.