Arnold Ap, Mambesak dan Identitas Papua

oleh Raka Ibrahim

Arnlod C. Ap
Arnlod C. Ap

PADA tanggal 21 April 1984, lima orang tahanan diminta melangkah keluar penjara oleh seorang polisi. Satu per satu, tahanan yang kebingungan itu digiring masuk mobil, yang disupiri dan dijaga ketat oleh pria-pria berwajah garang. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa garong-garong penjaga itu adalah anggota Kopassandha – satuan khusus yang nantinya berubah nama menjadi Kopassus. Perjalanan itu usai di pinggir pantai Pasir Enam, arah Timur dari Jayapura, kota terbesar di Papua.

Kejadian berikutnya simpang siur. Aktivis Carmel Budiardjo menulis bahwa salah satu tahanan tersebut berhasil kabur, dan mengisahkan nasib keempat kawannya.[1] Seorang tahanan, Eddy Mofu, digorok lehernya dan dibiarkan mati mengapung di laut. Sisanya disuruh berenang menghampiri sebuah kapal, lantas bersembunyi selama empat hari dalam sebuah gua. Pada tanggal 26 April, seorang tahanan melongok keluar gua untuk buang air kecil. Tanpa ia sadari, gua itu sudah dikelilingi pasukan Kopassandha bersenjata lengkap. Ia mati diberondong peluru.

Pada Juni 1984, Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja menerangkan dalam sebuah konferensi pers bahwa tahanan bernama Arnold Ap dicegat di laut saat mencoba melarikan diri dari penjara menggunakan perahu. Katanya, perahu tersebut tak mau menyerah saat dikepung Patroli, dan Arnold gugur dalam baku tembak yang terjadi setelahnya. Mengingat situasi dan kondisi yang ada, aparat tak punya pilihan lain selain untuk menembak mati Arnold. Lebih lanjut lagi, Kusumaatmadja berujar bahwa Arnold adalah seorang “separatis OPM” (Organisasi Papua Merdeka – red) Tutup buku, habis perkara. Sementara itu, di Abepura, aparat tak kuasa mencegah puluhan ribu orang mengiringi jenazah Arnold ke pemakaman.[2]

Sejak pertengahan tahun 1970-an, Arnold Ap dan kelompok seninya telah jadi duri dalam daging bagi pemerintah Indonesia. Terbentuk pada 15 Agustus 1978, Mambesak (dari bahasa Biak yang berarti Cenderawasih) adalah kelompok seni yang awalnya hanya beranggotakan mahasiswa dan akademisi iseng di jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih, Jayapura. Anggota-anggota Mambesak dipersatukan oleh kecintaan mereka pada seni dan budaya tradisional Papua, serta kesadaran mereka bahwa budaya tersebut mulai dilupakan oleh generasi muda.

Namun, mereka pun paham bahwa pemerintah yang berkuasa pada waktu itu memang sengaja berusaha mengikis budaya tradisional Papua. Sejak awal, bergabungnya Papua dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbilang berantakan. Referendum tahun 1969 untuk menentukan nasib Papua dimenangkan oleh pihak pro-integrasi, namun prosesnya dianggap bermasalah dan hasilnya tidak diterima masyarakat. Kemarahan ini berujung pada dibentuknya organisasi separatis seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), dan semakin ketatnya pengawasan pemerintah. Siapapun yang mempertanyakan atau menentang kebijakan pemerintah di Papua dengan mudah dituduh OPM dan separatis. Termasuk Mambesak.

“Segala ekspresi yang mencerminkan identitas sejati orang Papua justru dilarang.” Tulis antropolog I Ngurah Suryawan.[3] “Pemerintah Indonesia seolah tidak menghendaki seorang dengan diri ‘Papua’, melainkan seorang ‘Irian’ yang loyal.” Oleh karena itu, segala bentuk kebudayaan tradisional Papua – mulai dari musik, tari-tarian, cerita rakyat, hingga lelucon – dianggap sebagai pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Dalam logika Orde Baru, membiarkan seni tradisional Papua sama dengan memberi ruang bagi sentimen-sentimen pro-kemerdekaan untuk berkembang. Papua, menurut mereka, mesti diseragamkan dan dibikin berkiblat pada Jawa agar ia tidak terpikir untuk memerdekakan dirinya sendiri.
DALAM situasi seperti inilah Mambesak dibentuk. Pada mulanya, mereka menamakan diri Manyori (burung nuri) dan jadi langganan di pesta-pesta perkawinan dan malam budaya di Universitas Cenderawasih dan sekitarnya. Baru pada tahun 1978, mereka berganti nama menjadi Mambesak dan mulai menajamkan pemikiran politiknya. “Dalam Mambesak, ada istilah ‘turun ke kampung’ bagi anggota-anggotanya untuk mencari lagu-lagu daerah.” Tulis Suryawan. Para anggota Mambesak sepakat untuk mengisi waktu luang dan liburan kuliahnya untuk pulang ke kampung halaman, dan mencari lagu dan tari-tarian tradisional yang mulai dilupakan. Lagu dan tarian itu pun kemudian diaransemen ulang dan dibawakan kembali oleh Mambesak di konser-konsernya. Latar belakang para anggota Mambesak, yang banyak diisi mahasiswa dan sarjana antropologi, membuat mereka memiliki naluri dan keinginan luar biasa untuk menggali musik-musik daerah.

Selain Arnold, kelompok itu juga diisi oleh Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Marthinny Sawaki, dan beragam seniman yang bergantian keluar masuk Mambesak. Arnold, bersama Kapissa, bertanggungjawab untuk menemukan dan mengaransemen ulang musik tradisional. Thonny W. Krenek didapuk untuk mencari dan mendokumentasikan tari-tarian tradisional. Sementara Demianus Wariab Kurni diangkat sebagai penanggungjawab teater. Bermula dari konser-konser kecil di lingkungan kampus Universitas Cenderawasih – di mana Arnold menjabat sebagai ketua Museum Antropologi – Mambesak mulai digandrungi oleh masyarakat Papua yang rindu mendengar lagu-lagu dari tanahnya sendiri.

Berbekal tifa, suling, gitar dan ukulele, Mambesak menjadi salah satu raja panggung di Jayapura. Lagu-lagu tradisional Papua yang mereka bawakan dengan gaya folk selalu disambut oleh koor massal yang ikut bernyanyi. Dengan alat musik seadanya, mereka sukses menghipnotis penonton konser mereka yang makin lama makin membludak. Pentas mereka yang meriah tak hanya diisi oleh penampilan musik. Lagu-lagu mereka diselingi penampilan tarian tradisional dari berbagai daerah, dan celetukan mop (lelucon tradisional Papua) dari Arnold.  “Para penyanyi Mambesak menggunakan kostum berwarna kuning coklat seperti jenis Cenderawasih yang populer di pantai utara.” Tulis Suryawan. “Sedangkan para penari memakai cidoko (cawat) atau rok rumbai-rumbai dengan dekorasi pada tubuh, sesuai dengan kelompok etnis yang mereka peragakan gerak dasar tarinya.”
PADA saat bersamaan, Arnold dan kawan-kawan Mambesak lainnya diajak untuk mengasuh siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di Studio RRI Nusantara V, Jayapura. Setiap Minggu siang, Arnold bersama Thonny W. Krenek dan Constan P. Ruhukail membawakan siaran di bawah bendera Lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih. Dengan bahasa Indonesia logat Papua, kisahkisah tentang budaya tradisional Papua, selingan lagu-lagu rakyat dan mop yang dibawakan pembawa acara, program ini membuat Mambesak semakin terkenal di tanah Papua. Lima volume kaset rekaman lagu-lagu daerah Papua yang mereka rekam sendiri pun laku keras, dicetak ulang berkali-kali, dan dipromosikan habis-habisan melalui program radio mereka.

Tenarnya Mambesak jelas membuat aparat gerah. Meski mereka tak pernah membuat lagu-lagu politik yang se-‘keras’ Iwan Fals, fakta bahwa kelompok ini berani mencoba melestarikan budaya Papua sudah dianggap bentuk pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Pada tanggal 29 November 1983, Mambesak tampil di kantor Gubernur Papua Barat. Hanya berselang sehari, Arnold Ap dan empat orang lainnya – di antaranya anggota Mambesak – ditangkap oleh pasukan dari Kopassandha atas tuduhan subversi.

Selama berbulan-bulan setelahnya, Arnold Ap menghilang dari peredaran. Rektor Universitas Cenderawasih mengumumkan bahwa ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai kurator Museum kampus, juga karena tuduhan subversi. Ketika koran Sinar Harapan melaporkan bahwa keluarga Arnold tidak diizinkan menghubungi Arnold di tahanan, redaksi mereka ditegur secara langsung oleh pemerintah.
SETELAH ditahan dan diinterogasi selama 3 bulan, Arnold Ap mendadak muncul lagi. Pada tanggal 14 April 1984, ia terlihat berkeliling di area kampus Universitas Cenderawasih di bawah penjagaan ketat dari aparat. Hanya berselang sepekan kemudian, pemerintah melansir pengumuman yang mengejutkan: Arnold Ap telah kabur dari tahanan bersama empat orang lain. Ia dinyatakan buron.

“Namun, rupanya aksi ‘kabur dari tahanan’ itu adalah rekayasa pemerintah.” Tulis Carmel Budiardjo. “Seorang opsir dari Brimob, yang kemudian lari ke Papua Nugini, mengaku bahwa otoritas militer menganggap Arnold ‘sangat berbahaya karena aktivitasnya bersama kelompok Mambesak dan ingin ia dihukum mati atau penjara seumur hidup, namun tak berhasil menemukan barang bukti yang cukup.’” Buntu di jalur hukum, Arnold akhirnya dihabisi secara diam-diam.

Ketika ia ditembak mati pada 26 April 1984, ia tengah menunggu perahu bermotor yang hendak mengantarkannya ke Vanimo, Papua Nugini. Di sana, anak dan istrinya telah mengungsi sejak Februari dan menunggunya.

Ia tak pernah tiba. “Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh,” ucap Arnold. “Tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.”[4]


Daftar Referensi

Carmel Budiardjo (2008), “Arnold Ap and Theys Eluay”, Insideindonesia.org, diakses pada 26 September 2016 (http://www.insideindonesia.org/arnold-ap-and-theys-eluay)

Numbay Media (2014), “Arnold Ap’s Sup Mowiya”, Engage Media, diakses pada 26 September 2016 (https://www.engagemedia.org/Members/numbaymedia/videos/arnold-ap-sup-mowiya)

I Ngurah Suryawan (2011), “Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970−1980-an”, Universitas Udayana, diakses pada 26 September 2016 (http://etnohistori.org/ukulele-mambesak-membayangkan-identitas-budaya-papua-1970-1980-an.html)

Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli−September 2005.