Mambesak dan Spirit Kehidupan Bangsa Papua: Sebuah Refleksi

I Ngurah Suryawan

Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Program Doktor (S3) Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ngurahsuryawan@gmail.com

“Kita bernyanyi untuk hidup dahulu, sekarang dan nanti” (Mambesak)

Dalam sebuah pertemuan budaya di Kota Manokwari, Papua Barat pada akhir November 2010, saya merasakan ada kerinduan dari para pegiat seni dan budaya akan sebuah kebangkitan kembali kebudayaan Bangsa Papua. Hanya dengan seni dan budayalah orang Papua bisa menegakkan identitasnya. Kesan yang saya rasakan dalam pertemuan tersebut, jati diri orang Papua terletak pada ekspresi seni dan budaya, yang sayang sekali sering diputarbalikkan sebagai “politik” dan pemberontakan.

Perjalanan seni dan budaya di Tanah Papua penuh dengan kompleksitas yang melibatkan bukan hanya penetrasi politik tapi juga agama dan adat. Kesemuanya dibungkus melalui ekspresi seni untuk menunjukkan identitas diri dan kebudayaan yang ada di Tanah Papua. Pasang surut perkembangan seni di Tanah Papua salah satunya melibatkan campur tangan dari pemerintah dan agama. Bahkan salah seorang sesupuh seni di Kota Manokwari dalam pertemuan budaya yang saya ikuti mengungkapkan pernyataan, “Masuknya pemerintah dan agama yang menghancurkan budaya Papua.” Bagi pemerintah (baca: Belanda dan Indonesia), ketika rakyat Papua menyanyi dianggap ketinggalan zaman, dilarang dan dianggap ekspresi memberontak terhadap negara. Oleh karena itulah perlahan-lahan namun pasti budaya

orang Papua hilang.

Salah satu momentum ekspresi seni dan budaya Bangsa Papua adalah munculnya kelompok Mambesak pada 15 Agustus 1978 yang dalam bahasa Biak Numfor berarti Burung Cenderawasih atau burung kuning dengan tokohnya yang kemudian menjadi legenda, Arnold Clemens Ap. Melalui Mambesak inilah lagu-lagu dan tari-tarian daerah Papua dipentaskan oleh Arnold Ap, Sam Kapissa, Demyanus Wariap Kurni, Edy Mofu, Marthiny Md. Sawaki, Thonny W. Krenek dan yang lainnya. Pada saat itulah timbul bayangan akan kebangkitan seni dan budaya Papua seperti yang selalu diusung oleh Arnold Ap dan kawan-kawannya di kelompok Mambesak. Namun, bayangan akan kebangkitan seni dan budaya Papua itu tidak berlangsung lama saat Arnold Ap dibunuh oleh pasukan Koppasandha (kini Kopassus) pada 26 April 1984 di Pantai Pasir Enam.

Kini, setelah 30 tahun lebih, saya menyaksikan kembali bagaimana masyarakat dorang (mereka) kembali bergairah membicarakan Mambesak, meski sebelumnya ekspresi menyanyikan lagu-lagunya terbuka lebar di publik. Gairah tersebut bisa saya rasakan saat membicarakan “gerakan-gerakan sosial” yang telah dilakukan untuk menghadirkan seni dan budaya Papua sebagai jati diri, identitas diri Bangsa Papua. Dan kehadiran Mambesak selalu akan menjadi catatan penting.

Saya merasakan bagaimana ekspresi para pegiat seni ini ketika mereka berbicara tentang lagu dan tari sebagai bagian dari identitas diri mereka. Ekspresi dan pernyataan mereka mengungkapkan sejarah panjang kompleksitas budaya dan kekuasaan di Tanah Papua. “Kitong (kita) mengalami masa dimana tong merasa terancam hidup di republik ini. Pemerintah dong menganggap apa yang tong bicarakan selalu dianggap melawan pemerintah,” ungkap seorang pegiat seni dengan suara bergetar. Baginya, budaya merupakan bagian dari hidup orang Papua yang diekspresikan melalui lagu-lagu dan tari-tarian. Oleh pemerintah (baca: Indonesia), menyanyikan lagu-lagu daerah dianggap menentang pemerintah.

Heterogenitas etnik yang tinggi dengan masing-masing budaya, adat, dan seni menjadi kompleksitas tersendiri dalam membincangkan identitas budaya di Tanah Papua. Ini ditunjukkan dengan adanya lebih dari 253 bahasa. Masing-masing bangsa memiliki tradisi, konsep agama, struktur sosial dan kondisi geografis yang berbeda-beda. Ini juga termasuk budaya material dan bentuk ekonomi yang sudah tentu berbeda. Terdapat tiga wailyah geografis yang berbeda yang menentukan cara hidup rakyat Papua yaitu daerah pantai yang dihuni oleh nelayan dan pelaut; daetah pegunungan yang padat penduduk dengan iklim yang sehat dihuni oleh para petani; serta daerah tanah rawa yang sangat jarang penduduknya Heterogenitas adalah dasar dari sukubangsa Papua, demikian juga dasar dari Indonesia sendiri. Namun, perbedaan yang paling kentara adalah budaya-budaya di Papua tersebar daripada terpusat seperti yang terlihat pada budaya Jawa dan Bali.

Identitas bagi bangsa Papua sendiri awalnya berarti identitas sekelompok kecil: keluarga, desa kecil atau sekelompok kecil desa-desa. Identitas kelompok kecil atau pribadi itu didefinisikan melalui bahasa, tradisi mengenai keluarga, agama, budaya dan cara hidup secara umum yang biasanya berbeda dengan tetangganya. Masing-masing bangsa di tanah Papua mempunyai identitasnya masing-masing, yang ditunjukkan dengan menyatakan dirinya adalah manusia, orang-orang yang kemudian ditambahkan dengan nama desa atau sungai asal mereka. Pada tahun 1900 mulai berkembang identitas umum orang Papua yang kemudian pada tahun 1898 melalui pemerintah kolonial Belanda membentuk pusat pemerintahan di Manokwari. Melalui misi Kristen, masuklah para pengajar dan penginjil di pantai utara. Kontak yang terus menerus dengan orang asing menumbuhkan identitas Papua melebihi yang mereka alami sebagai kelompok kecil sebelumnya. Agama, dalam hal ini agama Kristen, ikut berperan dalam menumbuhkan identitas budaya Papua meskipun identitas sekelompok kecil Papua tetap utuh.

Identitas ke-Papuan-an tumbuh beriringan dengan sejarah pergolakan kekuasaan yang terjadi di Tanah Papua. Salah satu momen penting pentas kekuasaan terhadap tanah Papua terjadi pada tahun 1940-an hingga 1960-an. Saat itu terjadi Perang Dunia II yang berimpikasi kepada proses penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia termasuk di dalamnya Papua. Proses peralihan kekuasaan di Papua berujung kepada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Juli-Agustus 1969 yang menyatakan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, sejarah Papua setelah 1969 menunjukkan bahwa hasil Pepera itu justru menjadi salah satu akar konflik yang berkepenjangan.

Mambesak dan Nyanyian untuk Kehidupan [1] 

Sebelum terkenal dengan nama Mambesak, cikal bakal awalnya adalah sebuah grup band dengan nama Manyori (burung nuri) yang berdiri di Kampus Uncen (Universitas Cenderawasih) Jayapura dan mulai berkiprah di awal tahun 1970-an. Awalnya grup ini beranggotakan Arnold Ap yang ketika itu menjadi Kepala Museum Uncen, Sam Kapissa dan Jopie Jouwe. Pada tahun 1972, Band Manyori mengiringi lagu-lagu rohani di Gereja Harapan, Abepura yang kemudiang menggugah mereka untuk mulai mengembangkan lagu-lagu rohani dalam bahasa daerah mereka, dalam hal ini adalah bahasa Biak Numfor. Jelas saja hal ini awalnya mendapat tentangan dari tetua-tetua adat karena saat misionaris membawa pengaruh agama Kristen ke Papua, mereka mengkafirkan lagu, seni ukir, dan seluruh aspek kebudayaan di Papua, khususnya di kawasan Teluk Cenderawasih.

Grup Mambesak tercatat berdiri pada 15 Agustus 1978 dengan mulai mengisi acara hiburan lepas senja di halaman Museum Loka Budaya (Museum Antropologi) Universitas Cenderawasih Jayapura. Nama Mambesak dipilih baru ditetapkan mengganti Manyori pada penetapan pembentukan pengurus Mambesak. Nama ini dipilih karena dalam bahasa Biak-Numfor, mambesak berarti burung kuning atau burung cenderawasih, dihormati oleh semua suku-suku di seluruh Papua Barat sebagai mahkota kepala suku. Sedangkan Manyori yang berarti burung nuri dalam bahasa Biak-Numfor hanya merupakan burung suci bagi orang Biak-Numfor saja. Pada tanggal 17 Agustus 1978, Mambesak menampilkan lagu-lagu dan tari-tarian rakyat Papua hasil galian mereka di aula Uncen. Sejak saat itulah Mambesak kemudian secara rutin menyanyikan lagu dan tari-tarian budaya Papua di halaman museum Uncen, yang dijuluki sebagai “Istana Mambesak”.

Pada rapat pembentukan pengurus Mambesak tanggal 23 Agustus 1978, Arnold Ap terpilih sebagai koordinator. Marthinny Md. Sawaki sebagai sekretaris. Sam Kapissa sebagai penanggungjawab musik. Thonny W. Krenek sebagai penanggungjawab tari. Demianus Wariab Kurni sebagai penanggungjawab teater. Sampai pementasan terakhirnya yaitu pada tanggal 29 November 1983 di Kantor Gubernur Papua Barat hanya trio Arnold Ap, Mathinny Md. Sawaki dan Thonny W. Krenek yang bertahan menjadi pengurus Mambesak. Sam Kapissa kembali ke Biak dan kemudian aktif mengarang lagu  berbahasa Indonesia dan Biak serta mendirikan kelompok tari nyanyi Sandia. Sedangkan Demi Kurni di awal 1982 memisahkan diri dari Mambesak dan bersama Ausgust S. Ap, Sophie Patty, D.A Rumbewas dan Athen Tanaty mendirikan Teater Kristen Jayapura.

Awalnya grup Mambesak memang didominasi oleh pemuda Papua yang berasal dari kawasan Teluk Sairera (Teluk Cenderawasih), terutama adalah kebudayaan Biak Numfor tempat asal Arnold Ap dan Sam Kapissa. Namun, seiring dengan berkembangnya grup ini, mereka kemudian merekrut anggota yang berasal di luar Biak Numfor seperti Marthiny Sawaki (Waropen), Thony Wolas Krenek (Sorong) dan mulai aktif untuk menggali lagu-lagu, musik dan tari di luar dari kebudayaan Teluk Cenderawasih.

Media dalam hal ini adalah siaran radio adalah salah satu yang melambungkan nama Mambesak, terutama koordinatornya yang mempunyai talenta dalam berkesenian, Arnold Ap. Adalah Ignatius Suharno, ketua Lembaga Antropologi Uncen pada 1978 memberikan kepercayaan kepada Arnold Ap untuk menjadi penanggungjawab siaran Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di RRI (Radio Republik Indonesia) Studio Nusantara V Jayapura. Acara ini berlangsung setiap minggu siang, dibawakan oleh Arnold Ap dengan bendera Lembaga Antropologi Uncen. Program ini mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat Papua. Kunci keberhasilan siaran yang diampu Arnold Ap, Thony Krenek dan Constan P. Ruhukail adalah; penggunaan bahasa Indonesia logat Papua; pokok-pokok uraian tentang unsur-unsur kebudayaan Papua serta hal-hal aktual lainnya; selingan lagu-lagu rakyat serta mop-mop (cerita lucu) yang dibawakan oleh pembawa acara yang adalah anggota Mambesak.

Selain media siaran radio, Mambesak begitu banyak dikenal juga karena penjualan lima volume kaset rekaman yang berisi lagu-lagu daerah Papua. Hasil dari penjualan kaset rekaman inilah yang menghidupi grup ini. Usaha merekam lagu-lagu daerah Papua mulai dilakukan oleh grup Mambesak pada tahun 1980. Promosi kaset ini juga dilakukan oleh Arnold Ap dan kawan-kawannya di Mambesak selama siaran Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di RRI Nusantara V Jayapura.

Pertunjukan Mambesak sendiri berlangsung berpusat di wilayah Port Numbay (Jayapura) daerah-daerah lainnya di Papua. Pada hari-hari tertentu, Mambesak tampil dalam acara panggung gembira di halaman RRI yang selalu dipadati oleh pengunjung. Grup Mambesak juga pernah tampil di Biak dan Nabire pada tahun 1981. Instrumen yang mereka gunakan selama pertunjukan adalah tifa, suling, gitar dan ukulele. Arnold Ap selain sebagai penyanyi utama dan menceritakan mop, secara bergantian ia akan memainkan gitar dan memetik ukulele. Para penyanyi Mambesak menggunakan kostum berwarna kuning coklat seperti jenis Cenderawasih yang populer di pantai utara. Sedangkan para penari memakai cidoko (cawat) atau rok rumbai-rumbai dengan dekorasi pada tubuh, sesuai dengan kelompok etnis yang mereka peragakan gerak dasar tarinya.

Macx Binur (2005) dalam sebuah laporannya menuliskan, musik, lagu dan tari adalah spirit manusia Papua, dengan itulah mereka berbicara. Menurutnya, untuk mengerti kekuatan musik dan tari di Papua Barat, dibutuhkan pemahaman tentang perjuangan demi identitas orang Papua. Dalam tekanan mendalam, musik dan tari menjadi bagian yang menggelorakan jati diri Papua, suatu identitas yang selama ini berusaha diberangus. Tetapi segala ekspresi yang mencerminkan identitas sejati orang papua justru dilarang. Pemerintah Indonesia seolah tidak menghendaki seorang dengan diri “Papua”, melainkan seorang “Irian” yang loyal. Dalam kenyataannya, “diri Irian” hanyalah khayalan dan identitas sesungguhnya tak pernah beranjak dari diri seorang “Papua”.

Setiap lagu dan tari memancarkan keyakinan dan harga diri seorang Papua. Untuk memahaminya, kita harus menyelami ke dalam lagu dan tari itu sendiri, dan kita akan mulai mengerti sesuatu tentang Papua. Lewat lagu kebudayaan diangkat, dan hidup rakyat dimuliakan. Lirik dan ragam yang memuja misteri serta kemolekan alam Papua, menyatakan kembali legenda dan tradisi, memberikan pengetahuan dan kearifan, juga ratapan, tawa, dan kegalauan. Berbisik tentang keseharian hidup, perjuangan serta harmoni kebersamaan. Lagu menjadi lem perekat jiwa, spirit, dan mengobarkan kembali identitas melalui tradisi oral. Sebagaimana hidup rakyat, setiap kata lahir dari palung hati mereka, memancarkan hasrat personal terhadap situasi sekelilingnya. [2]

Lagu-lagu Mambesak selain berisi protes sosial seperti lagu “Mars Papua” yang dikutip di awal artikel ini, juga memuat syair tentang kecintaan dan kekaguman terhadap alam Papua. Namun menurut Macx Binur (2005), bagi orang Papua, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Mambesak penuh makna karena dinyanyikan dalam bahasa tanah (asli) dan dengan dialek maupun cara yang khas masing-masing suku. Salah satu lagu rakyat Biak yang dinyanyikan Grup Mambesak berjudul Awin Sup Ine  menyatakan rasa bangga pada alam Papua:

Orisyun isew mandep fyarawriwek

Nafek ro masen di bo brin mandira

Napyumra sye napyumda ra nadawer

Makamyun swaro beswar bepondina

Ref

Awino kamamo sup ine ma

Yabuki mananis siwa muno

Yaswar I na yaswar I sof fioro

[Dalam cahaya gemilang, sinar mentari melukis keindahan di langit,menggelorakan pandangan & perasaan saat ini, tak ada yg dapat menolong, kecuali dengan mengingat kembali peristiwa manis masa lalu dan menghayati rasa cinta yang mengikat kita

pada tanah ini].

Kebangkitan budaya Papua yang coba disemaikan oleh Mambesak sebenarnya dipicu dari ancaman kepunahan salah satunya disebabkan penetrasi agama kristiani yang menginjilkan orang Papua dan memberangus budaya lokal orang Papua. beberapa seni budaya Papua mengalami penaklukan karena dianggap sebagai artikulasi paham animis, bahkan disebut kafir (misalnya seni Wor Biak). Upacara tradisi kultural dalam skala besar hanya mampu bertahan hingga tahun 1950. Perkembangan selanjutnya, Katholik dan Protestan saling berlomba dalam merebut wilayah dan umat (manusia Papua) untuk di-Kristenkan berdasarkan theologi barat. Misi ini disertai dengan penerapan larangan-larangan kepada masyarakat untuk tidak mengekspresikan seni dan budayanya. Pengkaplingan wilayah pendudukan agamapun terjadi di Papua, dimana Kristen Protestan mendapatkan jatah meliputi hampir sebagian daerah pesisir pantai utara dan pinggiran pegunungan. Sedangkan Kristen Katolik merambah wilayah pegunungan tengah dan selatan hingga sebagian kepala burung, berdampingan dengan Islam yang berkembang di kepulauan Raja Ampat dan Fakfak (Binur, 2005).

Seorang seniman senior di Manokwari mengisahkan, saat memperoleh kesempatan tugas belajar di Universitas Cenderawasih sempat bersentuhan dengan grup Mambesak. Sebagai salah satu saksi sejarah Mambesak, ia mengakui bahwa kelahiran awalnya adalah dari Ikatan Keluarga Biak Numfor dengan Arnold Ap yang paling menonjol di dalamnya. Para mahasiswa yang tergabung dalam ikatan keluarga tersebut rata-rata berbakat memainkan alat musik dan menciptakan lagu-lagu daerah yang hebat. Dari sinilah muncul keinginan mendirikan grup musik yang sebelumnya bernama Manyori.

Setelah Manyori dikenal, maka muncullah tawaran dari orang-orang Biak yang ada di Jayapura untuk mengisi acara-acara, salah satunya adalah acara pernikahan adat. Grup Manyori saat itu diminta untuk mengisi acara dengan menyanyikan lagu-lagu daerah Biak Numfor. Pada awalnya, kehadiran Manyori dalam pernikahan adat ini ditentang oleh tetua-tetua adat, namun lambat tapi pasti mereka kemudian bisa menerima grup Manyori menyanyikan lagu-lagu daerah Biak Numfor dan Serui.

Lagu-lagu yang mereka mainkan pada awalnya adalah lagu-lagu dalam Bahasa Biak saja. Setelah Mambesak berkembang dan dikenal masyarakat Papua di Jayapura, mereka kemudian melebarkan sayapnya untuk menggali kembali lagu-lagu daerah dan tarian di luar kebudayaan Biak. Kritik dari Ignatius Suharno, kepala Lembaga Antropologi Uncen, bahwa Mambesak jangan hanya Biak sentris direspon oleh Arnold Ap dan kawan-kawan. Mereka kemudian mulai merekrut anggota baru seperti Yuslina Monim, Weles Krenek, Marthiny Sawaki (Waropen), dan daerah lainnya di Papua.

Upaya Arnold Ap dan kawan-kawannya di Mambesak untuk menggali seni musik dan tari-tarian Papua diwujudkan dengan mengisi liburan mahasiswa untuk pulang ke kampung halaman untuk mencari lagu dan tari-tarian untuk kemudian diarangement, di tata kembali, dikembangkan, dikemas sebagai materi pementasan Mambesak. “Arnold Ap biasanya akan menugaskan teman-temannya untuk mencari lagu di kampung dan membawanya ke Uncen. Kemudian nanti bersama-sama mereka akan menunjukkan lagu-lagu atau tari-tarian yang didapatnya dari kampung. Arnold dan Sam (Kapissa) biasanya akan melihatnya, menyimaknya dengan serius sambil ukulelenya sesekali bersuara,” kisah seniman senior ini yang saya temui di studionya di Kota Manokwari.

Di dalam grup Mambesak sendiri, ada istilah turun ke kampung bagi anggota-anggotanya  untuk mencari lagu-lagu daerah. Kemudian sesampainya di Uncen, setiap anggota akan menyanyikan lagu-lagu yang didapatnya dari kampung dan memeragakan gerakan-gerakan tari. Pada saat itulah Arnold Ap ditemani oleh Sam Kapissa akan merekam lagu-lagu tersebut dan diaransemen ulang. Eddy Mofu bertugas sebagai teknisi. Alat yang digunakan untuk merekam lagu-lagu pada saat itu sangatlah sederhana dengan tape recorder biasa. Setelah selesai merekam, Eddy Mofu biasanya akan menunjukkan hasilnya untuk kemudian diaransemen kembali oleh Arnold Ap, Sam Kapissa dan anggota Mambesak lainnya. Secara bergantian, Arnold Ap dan Sam Kapissa akan memainkan melodi gitar untuk aransemen lagu tersebut. Eddy Mofu akan memainkan ukulele dan anggota lainnya mengikuti dengan memainkan tifa secara bergantian dan bass.

Arnold Ap adalah pemain gitar melodi yang halus sekali, selain bermain ukulele dan tentunya membawakan mop-mop Papua yang memang menjadi keahliannya. Pada suatu kesempatan Arnold Ap mengungkapkan, “Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh, tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.” [3] Bagi Arnold Ap dan Membesak, dengan bernyanyi kita memberikan spirit pada hidup. Jika tidak ada nyanyian, juga tidak ada kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Aditjondro, George Junus.

2000                Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Elsam

Binur, Macx,

2005                “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli – September 2005

Chauvel, Richard.

2005                Consctructing Papua Nationalism: History, Etnicity and Adaptation. Washington: East-West Center

Yoman, Socratez Sofyan.

2005                Orang Papua Bukan Separatis, Makar dan OPM. Papua Barat: Lembaga Rekonsiliasi Hak-hak Asasi Masyarakat Koteka (Lehamkot) Papua Barat.

Yoman, Socratez Sofyan.

2010                Integrasi Belum Selesai: Komentar Kritis atas Papua Road Map. Jayapura: Cenderawasih Press

Widjojo dkk, Muridan.

2009                Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Past and Securing the Future. Jakarta: Buku Obor, LIPI dan TIFA.

[1] Sebagian besar bagian ini bersumber pada Bab IV “Pribumisasi versus Westernisasi: Gema Mambesak: Identitas Kultural Bumi Kasuari” (h. 109-137) dalam Dr. George Junus Aditjondro, Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi, dan Hak Asasi Manusia. (Jakarta: Elsam, 2000)

[2] Lihat laporan Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli – September 2005

[3] Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli – September 2005

Arnold Ap, Mambesak dan Identitas Papua

oleh Raka Ibrahim

Arnlod C. Ap
Arnlod C. Ap

PADA tanggal 21 April 1984, lima orang tahanan diminta melangkah keluar penjara oleh seorang polisi. Satu per satu, tahanan yang kebingungan itu digiring masuk mobil, yang disupiri dan dijaga ketat oleh pria-pria berwajah garang. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa garong-garong penjaga itu adalah anggota Kopassandha – satuan khusus yang nantinya berubah nama menjadi Kopassus. Perjalanan itu usai di pinggir pantai Pasir Enam, arah Timur dari Jayapura, kota terbesar di Papua.

Kejadian berikutnya simpang siur. Aktivis Carmel Budiardjo menulis bahwa salah satu tahanan tersebut berhasil kabur, dan mengisahkan nasib keempat kawannya.[1] Seorang tahanan, Eddy Mofu, digorok lehernya dan dibiarkan mati mengapung di laut. Sisanya disuruh berenang menghampiri sebuah kapal, lantas bersembunyi selama empat hari dalam sebuah gua. Pada tanggal 26 April, seorang tahanan melongok keluar gua untuk buang air kecil. Tanpa ia sadari, gua itu sudah dikelilingi pasukan Kopassandha bersenjata lengkap. Ia mati diberondong peluru.

Pada Juni 1984, Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja menerangkan dalam sebuah konferensi pers bahwa tahanan bernama Arnold Ap dicegat di laut saat mencoba melarikan diri dari penjara menggunakan perahu. Katanya, perahu tersebut tak mau menyerah saat dikepung Patroli, dan Arnold gugur dalam baku tembak yang terjadi setelahnya. Mengingat situasi dan kondisi yang ada, aparat tak punya pilihan lain selain untuk menembak mati Arnold. Lebih lanjut lagi, Kusumaatmadja berujar bahwa Arnold adalah seorang “separatis OPM” (Organisasi Papua Merdeka – red) Tutup buku, habis perkara. Sementara itu, di Abepura, aparat tak kuasa mencegah puluhan ribu orang mengiringi jenazah Arnold ke pemakaman.[2]

Sejak pertengahan tahun 1970-an, Arnold Ap dan kelompok seninya telah jadi duri dalam daging bagi pemerintah Indonesia. Terbentuk pada 15 Agustus 1978, Mambesak (dari bahasa Biak yang berarti Cenderawasih) adalah kelompok seni yang awalnya hanya beranggotakan mahasiswa dan akademisi iseng di jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih, Jayapura. Anggota-anggota Mambesak dipersatukan oleh kecintaan mereka pada seni dan budaya tradisional Papua, serta kesadaran mereka bahwa budaya tersebut mulai dilupakan oleh generasi muda.

Namun, mereka pun paham bahwa pemerintah yang berkuasa pada waktu itu memang sengaja berusaha mengikis budaya tradisional Papua. Sejak awal, bergabungnya Papua dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbilang berantakan. Referendum tahun 1969 untuk menentukan nasib Papua dimenangkan oleh pihak pro-integrasi, namun prosesnya dianggap bermasalah dan hasilnya tidak diterima masyarakat. Kemarahan ini berujung pada dibentuknya organisasi separatis seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), dan semakin ketatnya pengawasan pemerintah. Siapapun yang mempertanyakan atau menentang kebijakan pemerintah di Papua dengan mudah dituduh OPM dan separatis. Termasuk Mambesak.

“Segala ekspresi yang mencerminkan identitas sejati orang Papua justru dilarang.” Tulis antropolog I Ngurah Suryawan.[3] “Pemerintah Indonesia seolah tidak menghendaki seorang dengan diri ‘Papua’, melainkan seorang ‘Irian’ yang loyal.” Oleh karena itu, segala bentuk kebudayaan tradisional Papua – mulai dari musik, tari-tarian, cerita rakyat, hingga lelucon – dianggap sebagai pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Dalam logika Orde Baru, membiarkan seni tradisional Papua sama dengan memberi ruang bagi sentimen-sentimen pro-kemerdekaan untuk berkembang. Papua, menurut mereka, mesti diseragamkan dan dibikin berkiblat pada Jawa agar ia tidak terpikir untuk memerdekakan dirinya sendiri.
DALAM situasi seperti inilah Mambesak dibentuk. Pada mulanya, mereka menamakan diri Manyori (burung nuri) dan jadi langganan di pesta-pesta perkawinan dan malam budaya di Universitas Cenderawasih dan sekitarnya. Baru pada tahun 1978, mereka berganti nama menjadi Mambesak dan mulai menajamkan pemikiran politiknya. “Dalam Mambesak, ada istilah ‘turun ke kampung’ bagi anggota-anggotanya untuk mencari lagu-lagu daerah.” Tulis Suryawan. Para anggota Mambesak sepakat untuk mengisi waktu luang dan liburan kuliahnya untuk pulang ke kampung halaman, dan mencari lagu dan tari-tarian tradisional yang mulai dilupakan. Lagu dan tarian itu pun kemudian diaransemen ulang dan dibawakan kembali oleh Mambesak di konser-konsernya. Latar belakang para anggota Mambesak, yang banyak diisi mahasiswa dan sarjana antropologi, membuat mereka memiliki naluri dan keinginan luar biasa untuk menggali musik-musik daerah.

Selain Arnold, kelompok itu juga diisi oleh Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Marthinny Sawaki, dan beragam seniman yang bergantian keluar masuk Mambesak. Arnold, bersama Kapissa, bertanggungjawab untuk menemukan dan mengaransemen ulang musik tradisional. Thonny W. Krenek didapuk untuk mencari dan mendokumentasikan tari-tarian tradisional. Sementara Demianus Wariab Kurni diangkat sebagai penanggungjawab teater. Bermula dari konser-konser kecil di lingkungan kampus Universitas Cenderawasih – di mana Arnold menjabat sebagai ketua Museum Antropologi – Mambesak mulai digandrungi oleh masyarakat Papua yang rindu mendengar lagu-lagu dari tanahnya sendiri.

Berbekal tifa, suling, gitar dan ukulele, Mambesak menjadi salah satu raja panggung di Jayapura. Lagu-lagu tradisional Papua yang mereka bawakan dengan gaya folk selalu disambut oleh koor massal yang ikut bernyanyi. Dengan alat musik seadanya, mereka sukses menghipnotis penonton konser mereka yang makin lama makin membludak. Pentas mereka yang meriah tak hanya diisi oleh penampilan musik. Lagu-lagu mereka diselingi penampilan tarian tradisional dari berbagai daerah, dan celetukan mop (lelucon tradisional Papua) dari Arnold.  “Para penyanyi Mambesak menggunakan kostum berwarna kuning coklat seperti jenis Cenderawasih yang populer di pantai utara.” Tulis Suryawan. “Sedangkan para penari memakai cidoko (cawat) atau rok rumbai-rumbai dengan dekorasi pada tubuh, sesuai dengan kelompok etnis yang mereka peragakan gerak dasar tarinya.”
PADA saat bersamaan, Arnold dan kawan-kawan Mambesak lainnya diajak untuk mengasuh siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di Studio RRI Nusantara V, Jayapura. Setiap Minggu siang, Arnold bersama Thonny W. Krenek dan Constan P. Ruhukail membawakan siaran di bawah bendera Lembaga Antropologi Universitas Cenderawasih. Dengan bahasa Indonesia logat Papua, kisahkisah tentang budaya tradisional Papua, selingan lagu-lagu rakyat dan mop yang dibawakan pembawa acara, program ini membuat Mambesak semakin terkenal di tanah Papua. Lima volume kaset rekaman lagu-lagu daerah Papua yang mereka rekam sendiri pun laku keras, dicetak ulang berkali-kali, dan dipromosikan habis-habisan melalui program radio mereka.

Tenarnya Mambesak jelas membuat aparat gerah. Meski mereka tak pernah membuat lagu-lagu politik yang se-‘keras’ Iwan Fals, fakta bahwa kelompok ini berani mencoba melestarikan budaya Papua sudah dianggap bentuk pembangkangan terhadap pemerintah pusat. Pada tanggal 29 November 1983, Mambesak tampil di kantor Gubernur Papua Barat. Hanya berselang sehari, Arnold Ap dan empat orang lainnya – di antaranya anggota Mambesak – ditangkap oleh pasukan dari Kopassandha atas tuduhan subversi.

Selama berbulan-bulan setelahnya, Arnold Ap menghilang dari peredaran. Rektor Universitas Cenderawasih mengumumkan bahwa ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai kurator Museum kampus, juga karena tuduhan subversi. Ketika koran Sinar Harapan melaporkan bahwa keluarga Arnold tidak diizinkan menghubungi Arnold di tahanan, redaksi mereka ditegur secara langsung oleh pemerintah.
SETELAH ditahan dan diinterogasi selama 3 bulan, Arnold Ap mendadak muncul lagi. Pada tanggal 14 April 1984, ia terlihat berkeliling di area kampus Universitas Cenderawasih di bawah penjagaan ketat dari aparat. Hanya berselang sepekan kemudian, pemerintah melansir pengumuman yang mengejutkan: Arnold Ap telah kabur dari tahanan bersama empat orang lain. Ia dinyatakan buron.

“Namun, rupanya aksi ‘kabur dari tahanan’ itu adalah rekayasa pemerintah.” Tulis Carmel Budiardjo. “Seorang opsir dari Brimob, yang kemudian lari ke Papua Nugini, mengaku bahwa otoritas militer menganggap Arnold ‘sangat berbahaya karena aktivitasnya bersama kelompok Mambesak dan ingin ia dihukum mati atau penjara seumur hidup, namun tak berhasil menemukan barang bukti yang cukup.’” Buntu di jalur hukum, Arnold akhirnya dihabisi secara diam-diam.

Ketika ia ditembak mati pada 26 April 1984, ia tengah menunggu perahu bermotor yang hendak mengantarkannya ke Vanimo, Papua Nugini. Di sana, anak dan istrinya telah mengungsi sejak Februari dan menunggunya.

Ia tak pernah tiba. “Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh,” ucap Arnold. “Tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.”[4]


Daftar Referensi

Carmel Budiardjo (2008), “Arnold Ap and Theys Eluay”, Insideindonesia.org, diakses pada 26 September 2016 (http://www.insideindonesia.org/arnold-ap-and-theys-eluay)

Numbay Media (2014), “Arnold Ap’s Sup Mowiya”, Engage Media, diakses pada 26 September 2016 (https://www.engagemedia.org/Members/numbaymedia/videos/arnold-ap-sup-mowiya)

I Ngurah Suryawan (2011), “Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970−1980-an”, Universitas Udayana, diakses pada 26 September 2016 (http://etnohistori.org/ukulele-mambesak-membayangkan-identitas-budaya-papua-1970-1980-an.html)

Macx Binur (2005), “Menyanyi dan Menarikan Air Mata Papua” Prakarsa Rakyat, Inisiatif Perlawanan Lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli−September 2005.

Peran Mambesak Dalam Menumbuhkan Nasionalisme Bangsa Papua

Saya tidak mau menjadi budak terus. Biar saya makan kah tidak kah, saya mau berdiri sendiri (Arnold C. Ap)
Sejarah Mambesak
Mambesak - West Papua
Mambesak – West Papua

Penggagas Mambesak Arnold C. Ap menyadari akan pentingnya memertahankan kebudayaan dari ancaman budaya modern. Mereka memahami pentingnya budaya dan berusaha untuk menggunakan musik sebagai sarana untuk menyampaikan hak dasar manusia: kebebasan berekspresi. Mambesak dibentuk untuk merevitalisasi tari tradisional Papua Barat, musik dan lagu dan akhirnya memberikan warna tertentu, bentuk dan inspirasi bagi kelahiran musik dan kelompok tari di seluruh Papua, secara aktif mempromosikan dan memperkuat identitas Papua Barat. Pembentukan ini juga adalah bagian dari ketidakpuasan atas hasil Pepera memperoleh pengesahan oleh PBB yang nampak sekali bahwa pendirian suatu negara Papua Barat yang terpisah dari Indonesia terlalu kecil “peluangnya.”

Group music Mambesak atau burung Cenderawasih/burung kuning dalam bahasa Biak, menjadi momentum kebangkitan seni dan identitas bangsa budaya Papua. Sebelum memberikan nama Mambesak group ini bernama Manyori yang berdiri pada tahun 1970-an. Anggota/personil dalam group ini diantaranya; Arnold Clemens Ap, Sam Kapissa, Yowel Kafiar, Marthinny Sawaki.
Seperti mottonya, kita bernyanyi untuk hidup yang dulu, sekarang dan nanti Mambesak hendak mengatakan nyanyiannya adalah perawat kehidupan orang Papua. Memertahankan budaya lokal menjadi ide dasar Mambesak dengan mengangkat kesenian rakyat yang berakar pada lagu serta tari-tarian yang melekat pada masyarakat Papua. Berangkat dari itu, mereka kemudian terus menggali lagu dan tarian dari seluruh pelosok Papua dengan menampilkan lagu serta tari-tarian tersebut dengan peralatan, Ukulele, Bass, Tifa dan Gitar. Dalam setiap penampilannya, Mambesak menyanyikan lagu-lagu daerah dan menari, tak ketinggalan, mambesak juga menciptakan lagu-lagu dalam bahasa Indonesia berlogat Papua, dimana lagu-lagu tersebut adalah menguraikan tentang unsur-unsur kebudayaan Papua.
Tentunya, Arnold C. Ap sebagai inisiator dalam pembentukan group ini, Ia menggunakan kapasitasnya sebagai ketua Lembaga Antropologi dan kepala museum yang diberi nama Sansakerta, Loka Budaya dan mendirikan sebuah kelompok seni-budaya yang mereka namakan “Mambesak“. Gerakan kebangkitan Seni dan Budayan Papua Barat yang di pelopori oleh Arnol Ap, Sam kapisa dan kawan-kawan mahasiswa uncen lainnya di Jayapura ini lahir pada tahun 1972. Mereka menjadikan gereja-geraja sebagai awal membangun gerakan tersebut hingga terakhir di RRI Nusantara V Jayapura.
Gerakan ini tumbuh dan berkembang, kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi Mambesak. Musik ini oleh Sam Kapisa dan Arnold Ap mengganggap sebagai musik yang suci sehingga mereka menamainya Mambesak yang menurut orang Biak adalah burung suci, dengan tujuan untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang diintimidasi, dianiaya, diperkosa dan dibinasakan. Musik-musik mambesak memberikan kekuatan perlawanan rakyat Papua dan mengembalikan jadi diri sebagai komunitas yang beda dari bangsa Indonesia.
Namun Mambesak sebagai gerakan kebudayaan yang ingin menyelamatkan serta melestarikan seni, budaya penduduk Irian (sekarang Papua), ternyata dipandang sebagai bahaya “laten” oleh aparat keamanan karena membangkitkan semangat nasionalisme Papua.
Pada akhirnya, tanggal 30 November 1983, Arnold Ap ditahan oleh militer Indonesia. Sebelum dan sesudahnya, sekitar 20 orang Papua yang umumnya terdiri atas cendekiawan, dosen, serta, mahasiswa Uncen dan pegawai Kantor Gubernur Irian Jaya di Jayapura ditahan dan diselidiki karena oleh pihak aparat keamanan diindikasikan adanya aspirasi politik dalam kaitan dengan OPM.
Penahanan tokoh budayawan Irian Jaya ini berbuntut “hijrahnya” sejumlah dosen, mahasiswa, maupun pegawai Pemda menyeberang perbatasan menuju negara tetangga PNG, pada bulan Februari1984. Hampir pada waktu yang sama, di Jakarta empat pemuda Papua yang mempertanyakan nasib penahanan Arnold AP ke DPRRI, akhirnya terpaksa meminta suaka politik ke kedutaan besar Belanda.
Penahanan tersebut dilakukan karena dicurigai oleh Pemerintah Indonesia sebagai gerakan politik yang hendak membangkitkan nasionalisme Papua untuk melepaskan diri dari kekuasaan NKRI. Arnold Ap sendiri dituduh sebagai OPM kota yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Papua. Karena kecurigaan tersebut, akhirnya Arnold Ap dibunuh oleh Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura, setelah sebelumnya ditahan sejak bulan November 1983 tanpa proses hukum yang semestinya. Pembunuhannya diatur dengan skenario melarikan diri setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi sebelumnya justru ditembak mati. Selain Arnold Ap, rekannya, Eduard Mofu, juga dibunuh dan ditemukan terapung di permukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.
Kematian sang budayawan, yang dianggap berhasil mengakumulasikan dan mengintegrasikan kebudayaan masyarakat Irian Jaya, dijadikan “simbol” pengukuhan terhadap identitas dan jati diri orang Papua, yang merupakan cikal bakal tumbuhnya rasa nasionalisme Orang Papua.
Selama perjalanan Mambesak, sejak dibentuk pada tahun 1972 hingga 1984, mereka berhasil meluncurkan lima kaset masing-masing; Volume I pada tahun 1978, Volume II 1980, Volume III 1980, Volume IV 1982 serta Volume V tahun 1983.
Situasi Rakyat Pada Masa Kejayaan Mambesak

Lagu-lagu dan tari-tarian daerah yang dikembangkan Mambesak kaya dengan keragamannya karena semua anggotanya mahasiswa Universitas Cenderawasih. Ada juga beberapa PNS diluar kampus yang punya bakat seni bersatu dengan mahasiswa. Waktu liburan, kalau ada mahasiswa yang pulang ke daerah, terutama anggota Mambesak, pulang wajib bawa lagu, kemudian diaransemen di Loka Budaya Uncen.

Selain itu, masyarakat yang mendengar musik Mambesak langsung mengirim lagu-lagu dari daerah ke Mambesak. Ada yang direkam di kaset, ada yang ditulis tangan lengkap dengan not-notnya, dibawa dan dilatih di Istana Mambesak di Uncen. Sehingga Mambesak tidak pernah kekurangan lagu-lagu dari setiap suku daerah di Papua.
Selain Mambesak, ada kelompok musik lain, seperti Yaromba Apuse, Mansayori, Kamasan, Yance Rumbino dan kelompoknya di Nabire juga dengan musik akustiknya serta beberapa kelompok musik lain, tapi tidak dilanjutkan, karena trauma dengan pembunuhan personil Mambesak. Buntutnya, tidak ada pengembangan lagu-lagu daerah Papua, sehingga hanya terhenti di Mambesak. Dan tidak ada lagi yang melanjutkan atau mengembangkannya. Beberapa group music baru muncul saat memasuki tahun 1990-an dengan menyanyikan lagu-lagu Papua untuk Yosim Pancar yang dibawakan dalam perlombaan, tapi belum ada kelompok atau group music yang menyanyi khusus lagu-lagu Papua seperti Mambesak.
Kehadiran Mambesak disambut antusias oleh masyarakat Papua membayangkan identitas bangsa Papua sebagai ras Melanesia. Kebangkitan budaya Papua yang lama terpendam muncul kembali pada tahun 1970-1980 ketika group music Mambesak hadir ke tengah masyarakat dan begitu tenar di Papua. Lima volume kaset yang berisi reproduksi kembali. Hal itu didukung pula dengan siaran pelangi Budaya dan pancaran sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk dari Mambesak di studio V RRI Jayapura setiap hari Minggu siang sangat populer.
Sebagai seorang seniman yang sedang berusaha sedang genggam suku-suku di Papua dalam Mambesak, Ia menyadari bahwa dalam hal mengarransement lagu mesti disesuaikan dengan adat dan budaya setempat. Tak heran, hal itulah mendorong masyarakat Papua hingga kini menganggap putra asala Biak ini sebagai seorang Martir.

 

Semangat Mambesak dalam Menumbuhkan Nasionalisme Papua Barat

 

Gerakan Mambesak memberikan ispirasi yang kuat dan membangkitan nasionalisme bangsa Papua, sehingga perlawananpun semakin lama mulai menguat di daerah-derah Papua lainnya. Namun sayang, karena oleh pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahay sehingga mereka menangkap Arnol Ap dan membunuhnya tanpa alasan politik dan keamanan yang jelas terhadap kesalahan yang di Lakukan oleh Al arnol Ap. Gerakan ini melahirkan protes besar-besar bangsa Papua atas kehadiran Indonesia, dengan melakukan Suaka politik dan pengungsian besar-besaran.

 

Mambesak juga melalui musik dan lagu-lagu khas Papuanya melakukan perlawanan atas ketidakadilan. Adanya fakta sebagai satu kesatuan orang asli Papua dari ras Melanesia yang saat itu tertindas dalam pelanggaran hak asasi manusia dan adanya keinginan untuk menyatukan orang asli Papua sebagai satu bangsa untuk lepas dari penjajahan menjadi alasan yang tidak dapat dilepaskan dari kemunculan Mambesak. Dimana nasionalisme Papua yang dibangun saat itu disalah mengerti oleh pemerintah Indonesia seakan-akan dibangun semata-mata untuk kepentingan Papua merdeka, padahal penyatuan Papua sebagai satu bangsa dalam negara Indonesia sejatinya bukan hal yang tabu dari persfektif fakta ras, kebudayaan, dan kemanusiaan (karena memang negara ini dibangun di atas fakta keberagamaan ras, suku, bangsa, dan agama).

 

Gugatan terhadap kolonialisme yang diwujudkan dalam bentuk perbudayakan dan pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk lainnya dan gugatan terhadap kemapanan yang menindas oleh oleh rakyat Papua melalui Mambesak dilakukan dengan cara bermain musik dan bernyanyi. Para personil Mambesak bersuara melalui musik dan lagu khas Papua. Melalui musik dan syair lagu-lagunya, Mambesak mengungkapkan segala rasanya, dimana yang mencolok adalah pemuliaan terhadap Tuhan, pemujaan terhadap alam semesta (negerinya), kekaguman dan penghormatan terhadap indentitas dirinya dan bangsanya, gugatan terhadap kolonialisme (dan rasisme), dan cita-cita yang hendak diraih di masa depan.

 

Nilai-nilai dalam Semangat Mambesak

 

Sejak kemunculan Mambesak, kata merdeka kembali muncul dalam otak setiap manusia Papua, walaupun sebelumnya seringkali dilupakan. Saat mendengarkan lagu Mambesak, tentu saja orang yang lebih tua mengatakan bahwa itu lagu merdeka sungguh ampuh. Kata itu menjadi ajaran luhur yang tertanam kuat dalam lubuk hati setiap orang Papua. Mendengar musik dan lagu Mambesak berarti mendengar lagu merdeka. Dalam kekuasaan ajaran merdeka, kita yang menjadi bagian dari orang Papua pun tak henti-hentinya mencari esensi kata itu. Kadangkala kita merasa bingung dengan kata itu, sebab merdeka itu apakah penting, apakah sesuatu yang akan datang dengan sendiri, apakah sesuatu yang akan diberikan, atau apakah sesuatu yang akan direbut.

 

Tentunya hal ini adalah corong dari korban virus Mambesak dan ajaran merdeka. Virus Mambesak dan ajaran merdeka sudah mewabah kemana-mana di seluruh pelosok Tanah Papua, sudah menjangkiti hampir semua orang asli Papua, bahkan mereka yang bukan non-asli Papua. Ini merupakan sebuah fakta yang sulit ditolak. Mambesak benar-benar menemukan kenyamanan di dalam lubuk hati setiap orang asli Papua, ibarat benih unggul yang menemukan tanah yang subur. Dari sana kerinduan akan Mambesak tumbuh dengan subur, menjulang tinggi, menemukan cita dan cinta yang semestinya. Cita dan cinta itu adalah kemerdekaan; dimana setiap oran asli Papua dapat hidup dengan kaki kokoh dan kepala tegak di negeri leluhurnya. Mambesak adalah kawan perjalanan dalam siara kehidupan menuju puncak kemerdekaan. Dalam semangat dan posisi seperti ini, virus Mambesak dan ajaran merdeka menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Mambesak tak penting tanpa merdeka, dan merdeka pun tak penting tanpa Mambesak.

 

Mambesak mempunyai ribuan penggemar yang fanatik di Papua, terutama orang asli Papua. Hal ini dapat dilihat dari adanya upaya dari sejumlah pihak untuk membangkitkan kembali Mambesak, adanya kegemaran sejumlah orang asli Papua untuk mendengarkan lagu-lagu Mambesak, adanya sejumlah aksesoris (terutama pakaian) yang disablon dengan foto Arnlod Ap, dan adanya sejumlah tulisan yeng bertemakan Mambesak dan Arnold Ap yang ditulis oleh sejumlah orang.

 

Jika melihat perbandingan antara Rastafari dan Bob Marley dengan Mambesak dan Arnold Ap, maka terdapat tujuh kesamaan yang mencolok. Hal semacam ini bukanlah sebuah kebetulan, sebab hal semacam ini sesungguhnya merupakan fenomena global. Banyak gerakan sosial (politik/keagamaan) dan banyak musik dan lagu lahir sebagai wujud perlawanan terhadap penjajahan (atau sebut saja kemapanan yang menindas) dan untuk menemukan dan menegakkan jati diri sebagai manusia yang merdeka. Pilihan perjuangan dengan cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh group musik, musisi dan penyanyi lain seperti John Lennon, Lucky Dube, Black Brothers, dan banyak group music lainnya.
Dengan demikian, sesungguhnya latarbelakang lahirnya Mambesak, dinamika dalam perjalanan Mambesak, dampak dari adanya Mambesak, dan tujuan akhir dari Mambesak sesungguhnya sama atau serupa dengan gerakan sosial (politik/keagamaan), musik, dan lagu yang pernah dan sedang bermunculan di berbagai belahan dunia lainnya. Yang pada umumnya inti dari gerakan sosial (politik/keagamaan) seperti ini adalah karena hendak menemukan dan menegakkan jati dirinya sebagai manusia yang sesungguhnya.

 

Seni menurut Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, adalah Sentuhan Nurani. Untuk itulah seni menjadi ukuran suatu bangsa manusia. Semakin halus nuraninya, semakin tinggi karya-karya nuraninya. [Majalahselangkah.com]

 

————————

 

Referensi:
1.    Yakobus O. Dumupa (2014) MAMBESAK: Ungkapan Perasaan Bangsa Papua Odiyaiwuu.com
2.    I Ngurah Suryawan (2011) Ukulele Mambesak Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an Etnohistori.org
3.    Bernard Agapa (2010) Arnold Clemens Ap Lovepapua.com
4.    Max Binur, (2005) Menari dan Menarikkan Air Mata Papua Prakarsa Rakyat, inisiatif perlawanan lokal Simpul Kepala Burung Papua Periode Juli-September 2005.

 

NB: Tulisan ini pernah disampaikan saat seminar AMP memperingati 43 tahun Mambesak, di Asrama Papua, Yogyakarta, 14 Agustus 2015