You are Very Welcome Guest!
 | Page 2

Mengenang 33 Tahun Kematian Arnold Clemens Ap

"Saya bukan seorang Pengamat Sosial atau Sosiolog, Saya bukan Seorang Pengamat Politik, Saya bukan Seorang Budayawan atau Antropolog, Saya bukan Seorang Musisi atau Musikolog, tetapi Saya hanya penulis Sejarah".

Kematian seseorang sangat menyedihkan bagi keluarga dekat dan sanak saudaranya karena keterlibatan sosial dalam kehidupan manusia seperti kita ketahui dalam ilmu sosiologi bahwa manusia tak bisa hidup sendiri karena manusia bukanlah sebuah pulau yang bisa hidup ditengah lautan.

Dengan keterlibatan sosial inilah manusia mengenang kisah-kisah baik yang pernah dibuat selama masih hidup didalam kehidupan manusia di dunia. Selama kita masih hidup dimana saja kita berada, kita diberi kebebasan oleh Allah untuk berkarya sesuai talenta yang telah diberikan kepada kita masing-masing. 

Oleh karena itu, melalui talenta yang melekat pada manusia dapat kita implementasikan dengan cara mengagitasi, mengorganisir, mengarahkan, menyusun, merencanakan, dan membuat sesuatu sesuai talentanya. Talenta pada manusia berbeda-beda, ada yang bermain sepak bola, bola volley, bola futsal, bulu tangkis, tenis meja,  dan ada yang bisa bermain musik biola, gitar, drum, piano, harmonika, dan keyboard.

Salah satu Pengembangan talenta dalam bidang Seni Papua yakni “MAMBESAK” yang di pelopori oleh Arnold Clemens Ap, dkk., pada tahun 1972 di Jayapura. “MAMBESAK” ini dapat dikenang hingga sekarang karena gerakan mahasiswa yang bergerak dibidang seni dan budaya ini dimulai dari gereja-gereja, panggung musik hingga terakhir di RRI nusantara lima Jayapura. 

Pada perkembangannya, Arnold Clemens Ap, dkk., melalui “MAMBESAK” dapat menyita perhatian dari seantero masyarakat Papua dengan tumbuh dan berkembang subur sehingga pada tanggal 15 Agustus 1978 dijadikan sebagai hari Lahirnya “MAMBESAK”. 

Awal mula mendirikan Grup Musik dari Tanah Papua yang bernama “MAMBESAK” ini dengan tujuan untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang diintimidasi, dianiaya, diperkosa, dan dibunuh diatas Tanahnya Sendiri oleh aparat Militer yang bertugas di Papua maka Arnold Clemens Ap, dkk., dikenal sebagai Budayawan.

Grup Musik “MAMBESAK” banyak memberikan inspirasi yang kuat dan telah membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Papua sehingga pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahaya atau Separatis. Lalu, pada bulan Januari 1980 pimpinan Grup Musik “MAMBESAK” dituduh sebagai OPM Kota yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan Kemerdekaan Bangsa Papua.

Tuduhan itupun, semakin hari semakin membesar dikalangan Militer Indonesia di Papua hingga pada 11 November 1983 Pimpinan Grup Musik itupun ditangkap oleh Militer Indonesia. Hanya lima bulan dipenjara, Arnold Clemens Ap, dibunuh oleh Pemerintah Indonesia melalui Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura. Kematian, sang Budayawan Arnold Clemens Ap, masih misterius hingga sampai hari ini.

Pembunuhannya diatur dengan skenario melarikan diri setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold Clemens Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi lebih dahulu justru ditembak mati. Selain Arnold Clemens Ap, rekannya Eduard Mofu, juga dibunuh Jenazahnya ditemukan terapung dipermukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Sekitar 800-an Masyarakat Papua melakukan pelarian ke Perbatasan Indonesia-PNG sebagai bentuk protes mereka atas sikap tidak manusiawi dari Indonesia terhadap bangsa Papua Barat. Pada hari yang sama sekitar 300-an masyarakat Papua melakukan “long march” mengantarkan mayat Alm. Arnold Clemens Ap, dari Kota Jayapura menuju Tanah Hitam (TPU).

Momentum 26 April adalah momen bersejarah bagi rakyat PapuaBarat dimana kematian sang budayawan, yang berhasil mempersatukan kurang lebih 256 suku yang mendiami di pulau Papua melalui Grup seni Musik “Mambesak” yang digalang oleh Arnold C. Ap, Sam Kapisa, dan kawan-kawannya.

Source: https://www.kompasiana.com/

Peringati 37 Tahun Mambesak 15 Agustus 1978

 Panitia HUT Mambesak Nabire Akan Gelar “Semalam Mengenang Mambesak”

Cover Album Mambesak

Cover Album Mambesak

Grup Mambesak atau dalam bahasa Biak Numfor berarti burung Cenderawasih atau burung kuning. Tidak terlalu banyak yang tahu keberadaan grup ini, namun bagi warga Papua, grup ini merupakan simbol dan kebangkitan seni budaya Papua.
Berdiri 15 agustus 1978, Mambesak digawangi oleh Arnold Clemens AP, Eddy Mofu, Sam Kapisa, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki. Ide dasar terbentuknya grup ini adalah untuk mengangkat kesenian rakyat Papua yang berakar pada lagu-lagu dan tarian rakyat, dan menampilkannya dalam bentuk nyanyian dengan peralatan ukulele (gitar kecil), tifa (kendang khas Papua), bass, dan gitar.

Pementasan mereka juga diselingi dengan mop (guyonan-goyonan khas Papua) yang dibawakan oleh Arnold Ap. Dalam setiap penampilannya, selain menyanyikan lagu dan menari, Mambesak juga menggunakan logat bahasa Indonesia logat Papua dan menguraikan beberapa unsur-unsur kebudayaan Papua.

Kehadiran Mambesak disambut antusias rakyat Papua yang membayangkan identitas budaya mereka. Kebangkitan budaya Papua yang lama terpendam sempat muncul pada tahun 1970−1980-an ketika Arnold Ap dan Grup Mambesak-nya begitu terkenal di seluruh Papua. Lima volume kaset Mambesak yang berisi reproduksi dan rearrangement lagu-lagu daerah Papua berulang kali habis terjual dan diproduksi kembali. Siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk dari Mambesak di Studio RRI Nusantara V Jayapura setiap hari Minggu siang sangat populer.

Kebangkitan identitas budaya Papua melalui kesenian inilah yang dicurigai oleh Pemerintah Indonesia sebagai benih-benih separatisme Papua. Aparat keamanan saat itu, Koppasandha (kini Kopassus) mencurigai gerakan kebudayaan Arnold Ap dan Mambesak adalah benih laten “nasionalisme Papua” dalam “bungkus kultural”. Arnold Ap akhirnya ditembak di pantai Pasir Enam, sebelah timur kota Jayapura pada 26 April 1984, pada saat sedang menunggu perahu bermotor yang konon akan mengungsikannya ke Vanimo, Papua Nugini, ke mana isteri, anak-anak, dan sejumlah teman Arnold Ap telah mengungsi terlebih dahulu pada 7 Februari 1984.

Dalam rangka memperingati hari Mambesak inilah, Panitia lomba HUT Mambesak berinisiatif melaksanakan kegiatan perlombaan tarik suara dalam bentuk group musik dan seni tarik suara yang akan dilaksanakan 13 Agustus 2015 mendatang bertajuk ‘Semalam Mengenang Mambesak’.

Pihak panitia dan penanggung jawab kegiatan, yakni Dewan Adat Papua (DAP) dan dari Suku Besar Yerisiam Gua memberi kesempatan kepada semua calon peserta untuk mendaftarkan diri di Sekretariat Panitia Jalan Yos Sudarso Oyehe atau dikediaman Almarhum SP. Hanebora depan SPBU Oyehe.

Menurut Ketua panitia, John Gobai didamping sekretarisnya Robertino Hanebora, latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini pertama, arus perkembangan modern begitu cepat masuk di seantero Indonesia pada umumnya dan Papua pada khususnya, menyebabkan hilangnya nilai-nilai kearifan lokal budaya adat istiadat yang menjadi sebuah identitas suatu komunitas manusia.

Dan kedua, lanjutnya, musik tradisional Papua dengan lagu daerah merupakan sebuah ciri khas yang menunjukan integritas manusia Papua kini diambang kepunahan. Arnold Aap, seorang tokoh antropolog dan pemerhati musik dan budaya Papua yang dalam sejarahnya membuat sebuah group musik ‘Mambesak’ dengan melagukan lagu-lagu daerah asli Papua di era tahun tujuh puluhan dari berbagai bahasa daerah di Tanah Papua, menjadi sebuah sosok yang patut dicontohi oleh generasi muda Papua saat ini.

Tambah John, sehubungan dengan hal tersebut menjadi sebuah motivasi sehingga muncul sebuah ide guna melakukan sebuah perlombaan tarik suara dalam bentuk group musik dan seni tarik suara.

Ada beberapa hal, diantaranya mengangkat nilai-nilai budaya lewat musik daerah lebih khususnya daerah Nabire dari arus modern/globalisasi, mendidik generasi muda Papua/Nabire lewat alat musik tradisional dan budaya Papua yang sesungguhnya dan meningkatkan jati diri masyarakat Papua/Nabire dari kepunahan budaya Papua dan arus global nasional dan internasional.

Diluar itu, kegiatan yang didukung oleh aliasi masyarakat pesisir dan kepulauan Kabupaten Nabire ini kiranya tercipta generasi penerus Papua/Nabire yang menjaga dan mengormati musik daerah tradisonal sebagai jati dirinya.

Source: