Mengenang Grub Musik Mambesak “Di Kala Matahari Terbenam”

Mengenang 37 Tahun Groub Musik Papua (Mambesak) Nabire 13 Agustus 201516(foto:papales)
Mengenang 37 Tahun Groub Musik Papua (Mambesak) Nabire 13 Agustus 201516(foto:papales)

Panitia Perayaan Mengenang Groub musik PapuaMambesak”, pada 13 Agustus 2015, jam 5-9 malam waktu setempat, telah menyelenggarakan lomba tarik suara. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Dinas PU Kabupaten Nabire, Papua. Ajang tersebut di ikuti oleh 5 grub yang memperebutkan juara dengan menyanyikan 3 lagu wajib Mambesak. Diantaranya, Rekana Groub Morgo Pantai, Kamasan Mamai, Supi Manggun dari Samabusa, Bumiowi Voice dari kampung Sima dan Marojari dari KNP Nabire.

Dewan juri yang terdiri dari Ketua Kesenian Nabire, Petrus Adi, Welem Misido pencipta lagu Awim Kamam serta Deki Korwa sebagai aransemen lagu-lagu daerah. Dari pentasan seni tarik suara mengenang groub musik mambesak yang diikuti 5 grub tersebut, Juara I diraih oleh Rekana Groub dari Margo Pantai, Juara II diraih oleh Bumiowi Voice dari kampung Sima dan juara III diraih oleh Supi Manggun dari Samabusa. Masing-masing peserta lomba mendapatkan hadiah piala dan uang.

Robertino Hanebora (Sekertaris Suku Besar Yerisiam Gua) kepada PUSAKA mengatakan, ide lomba tarik suara tersebut muncul secara spontan dari diskusi sederhana. Kemudian mereka bentuk Panitia, selanjutnya, menamakan kegiatan dengan nama “Semalam Mengenang MAMBESAK. Tino bilang mereka melakukan pencarian dana dengan donasi dari kawan-kawan dan berbagai pihak secara swadaya. Akhirnya atas campur tangan TUHAN dan dukungan semua pihak, kegiatan “Semalam mengenang MAMBESAK pun terlaksana. Kami hanya terpanggil untuk melestarikan dan mengangkat nilai2 budaya Papua lewat panggung tarik suara. Ini adalah awal rencana Kami akan buat dia acara tahunan, demikian Tino melaporkan.

Ketua Panitia Gunawan Inggeruhi mengatakan, tujuan dari dilaksanakanya kegiatan Semalam Mengenang “Mambesak” adalah mengangkat nilai-nilai budaya lewat Musik daerah (Papua) lebih khususnya daerah Nabire dari arus moderen/globalisasi. Sekaligus, lanjut Gunawan, bertujuan untuk mendidik generasi muda Papua yang berada di Nabire lewat Alat musik Tradisional dan budaya Papua yang sesungguh-nya. Juga, meningkatkan Jati Diri Masyarakat disini dan tanah Papua pada umumnya dari kepunahan diera arus Global nasional dan Internasional, demikian Gunawan.

Sementara itu, Ketua DAD Paniay Jhon NR. Gobai mengatakan bahwa dengan diadakanya lomba tarik suara yang dikemas dalam bentuk mengenang Groub Musik PapuaMambesak” yang diadakan di wilayah Nabire, sebagai langkah awal yang terus didorong. Tiap tahun akan dilakukan lomba ini, kata Jhon sebelum acara ini digelar. Lanjutnya, mengenang Mambesak diharapkan agar muda-mudi Papua lebih khususnya wilayah Nabire lebih mengenal dan mencintai akan nilai-nilai budaya musik daerah/tradisional Papua. Selain itu juga, lebih mendekatkan diri kepada generasi Papua dalam mempertahankan nilai-nilai budaya musik tradisional Papua. Pada akhirnya, tercipta generasi penerus yang menjaga dan mengormati musik daerah tradisonal sebagai jathi dirinya, demikian Jhon NR. Gobai.

Profil Singkat Mambesak

Grup Mambesak atau dalam bahasa Biak Numfor berarti burung Cenderawasih atau burung kuning. Tidak terlalu banyak yang tahu keberadaan grup ini, namun bagi warga Papua, grup ini merupakan simbol dan kebangkitan seni budaya Papua.

Pada era kejayaanya, Mambesak di motori oleh Arnold Clemens AP, Eddy Mofu, Sam Kapisa, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki. Ide dasar terbentuknya grup ini adalah untuk mengangkat kesenian rakyat Papua yang berakar pada lagu-lagu dan tarian rakyat, dan menampilkannya dalam bentuk nyanyian dengan peralatan Ukulele (gitar kecil), Tifa (kendang khas Papua), Bass, dan Gitar. Arnold C. Aap, seorang tokoh antropolog dan pemerhati musik dan budaya Papua yang dalam sejarahnya merintis sebuah group musik “MAMBESAK” dengan melagukan lagu-lagu daerah asli era tahun 70-an dari berbagai bahasa daerah di Tanah Papua, menjadi sebuah sosok yang patut di contohi oleh generasi muda negeri ini.

Kehadiran Mambesak kala itu disambut antusias rakyat Papua yang membayangkan identitas budaya mereka. Kebangkitan budaya Papua yang lama terpendam sempat muncul pada tahun 1970−1980-an, ketika Arnold Ap dan Grup Mambesak-nya begitu terkenal di seluruh Papua. Lima volume kaset Mambesak yang berisi reproduksi dan rearrangement lagu-lagu daerah Papua berulang kali habis terjual dan diproduksi kembali. Siaran radio Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra yang diasuh oleh Arnold Ap dkk dari Mambesak di Studio RRI Nusantara V Jayapura setiap hari Minggu siang sangat populer pada era tersebut.

Salah satu ciri khas grub ini, pementasan mereka juga diselingi dengan mop (guyonan) khas Papua) yang dibawakan oleh Arnold Ap. Dalam setiap penampilannya, selain menyanyikan lagu dan menari, Mambesak juga menggunakan logat bahasa Indonesia dialek Papua dan menguraikan beberapa unsur-unsur kebudayaan Papua.

Kebangkitan identitas budaya Papua melalui kesenian inilah yang dicurigai oleh Pemerintah Indonesia sebagai benih-benih separatisme Papua. Aparat keamanan saat itu, Koppasandha (kini Kopassus) mencurigai gerakan kebudayaan Arnold Ap dan Mambesak adalah benih laten “nasionalisme Papua” dalam “bungkus kultural”. Arnold Ap akhirnya ditembak di pantai Pasir Enam, sebelah timur kota Jayapura pada 26 April 1984, pada saat sedang menunggu perahu bermotor yang konon akan mengungsikannya ke Vanimo, Papua Nugini, ke mana isteri, anak-anak, dan sejumlah teman Arnold Ap telah mengungsi terlebih dahulu pada 7 Februari 1984.

Belum lagi, arus perkembangan moderen (globalisasi) begitu cepat masuk di seantero indonesia pada umumnya dan Papua pada khususnya menyebabkan hilangnya nilai-nilai kearifan lokal budaya adat istiadat yang menjadi sebuah identitas suatu komunitas manusia. Musik tradisional Papua dengan lagu daerah merupakan sebuah ciri khas yang menunjukan integritas manusia Papua kini diambang kepunahan.

Bercerita dalam bentuk tarik suara, itulah irama yang dimainkan grub Mambesak. Pengungkapan isi hati dan perasaan melalui seni bagaikana mengangkat identias suku-suku yang mendiami pulau Cenderawasih di ufuk Timur Indonesia. Mengangkat nilai-nilai budaya ini mengentalkan semangat nasionalisme rakyat Papua diera tahun 1970-1980. Nasib dari mambesak lenyap paska pertarungan ekonomi dan politik global yang memperebutkan Tanah Papua sebagai konsensi masa kini.

Galeri Foto: Selamat Mengenang Mambesak

Sumber: Arkilaus Baho

Musik Mambesak sebagai Politik Identitas etnis Papua

Martinus Christian Onweng

Pembimbing: Prof. Dr. Soenyoto Usman,

ABSTRACT: This research aims to analyze the meaning of the text of the songs creation Mambesak music group. The study was conducted in the city of Jayapura in Papua province in October 2010.

Data taken in this study form mambesak song text, from 9 songs; Akaibpamare, Maitwu som, Syowi yena, Yako car, Do mi dou, Basiri, Nik punghuluok en, lo Wayut, and Nonabaku For purposes of analysis, namely the Discourse Analysis: Critical Discourse Analysis (CDA) Norman Fairlouch used as an analytical tool in the song mambesak song texts. Therefore a qualitative approach is the paradigm used in this study.

The analysis showed that; to maintain the culture of ethnic groups as a symbol of Papua identity in Music Mambesak form a group, because it is through music is a symbol of ethnic culture can be preserved, In the lyric songs that have been interpreted mambesak it turns out it only tells about the natural beauty of Papua, homesick, longing for peace, young people build homes. Actually that is the case in the song mambesak is elucidation of the text between the artist and the song lyric of different intelligence (goverment).

Social identity or ethnic identity has actually been attached to each individual and the ethnic groups. Mambesak presence as an identity in order to generate movement visible to the surface.

Ethnic identity revival movement led by Arnold Aap and friends arise because of concerns about ethnic cultures as a symbol of identity will fade and even disappear because of the presence of migration from outside the area of Papua (immigrants). Besides efforts to fight for cultural symbols as a symbol of regional identity is always under pressure by the central government.

Almost all cultural symbols as a symbol of Papuan ethnic identity is considered as a separatist symbol. According Djohan (2003: 7-8), that music is a complex social behavior and the inside contained a universal expression of human thought, ideas of the brain that contain a significant message.

Message or idea conveyed through the music or songs usually have links with the historical context. With regard to the opinion above, the Papuans see art, especially folk music and traditional dancing as a part, can not be separated from life. This affected by the unique geography of Papua and store various mysteries in it (mountains, valleys, forests, oceans) are always manifested in poetry, songs and folk dances as well as actualized through the song lyrics to describe the beauty of wealth, fertility, the glory and grandeur of nature Papua.

INTISARI: Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis arti pada teks lagu-lagu ciptaan kelompok musik Mambesak. Studi ini dilakukan di Kota Jayapura Provinsi Papua pada bulan oktober 2010. Data yang diambil dalam penelitian ini berupa musik lagu mambesak, yang berasal dari 9 judul lagu ; Akaibpamare, Maitwu som, Syowi yena, Yako car, Do mi dou, Basiri, Nik punghuluok en, Wayut lo, dan Nonabaku. Untuk tujuan analisis, maka Analisis Wacana yakni ; Critical Discourse Analysis (CDA) Norman Fairlouch digunakan sebagai alat analisis teks lagu dalam lagu mambesak.

Oleh karena itu pendekatan kualitatif merupakan paradigma yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa ; untuk menjaga budaya kelompok etnis di Papua sebagai simbol identitas di bentuklah kelompok Musik Mambesak, karena dianggap melaui musik maka simbol budaya etnis bisa di lestarikan. Dalam syair lagu-lagu mambesak yang telah diartikan ternyata isinya hanya zmenceritakan tentang keindahan alam Papua, rindu kampung halaman, rindu akan kedamaian, serta generasi muda membangun kampung.
Sebenarnya yang menjadi permasalahan dalam lagu mambesak adalah pemaknaan teks syair lagu antara seniman dan intelejen (pemerintah) yang berbeda. Identitas sosial ataupun identitas etnis sebenarnya telah melekat pada individu masing-masing maupun pada kelompok etnis. Kehadiran mambesak sebagai suatu gerakan membangkitkan identitas agar nampak ke permukaan. Gerakan kebangkitan identitas etnis ini oleh pimpinan mambesak Arnold Aap dan kawan-kawan timbul karena rasa keprihatinan akan budaya etnis sebagai simbol identitas akan pudar bahkan hilang karena kehadiran migrasi dari luar daerah Papua (pendatang). Selain itu upaya memperjuangkan simbol-simbol budaya sebagai simbol identitas daerah juga selalu mendapat tekanan oleh pemerintah pusat. Hampir semua simbol budaya Papua sebagai simbol identitas etnis dianggap sebagai simbol separatis.

Menurut Djohan (2003 : 7-8), bahwa musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide dari otak yang mengandung sebuah pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks historis. Berkaitan dengan pendapat tersebut diatas, maka orang Papua memandang kesenian terutama musik rakyat dan tarian sebagai bagian yang tidak dapat pisahkan dari kehidupannya.

Hal ini dipengarhi oleh kondisi geografis Papua yang unik dan menyimpan berbagai misteri di dalamnya (gunung, lembah, hutan, laut) yang selalu dimanifestasikan dalam syair, lagu dan tarian rakyat serta teraktualisasikan melalui syair lagu untuk melukiskan keindahan kekayaan, kesuburan, kejayaan serta kemegahan alam Papua.

Kata kunci Musik Mambesak , Politik Identitas, Etnis Papua
Program Studi S2 Sosiologi minat Studi Pembangunan UGM
No Inventaris 2785-H-2011

Sumber: http://etd.repository.ugm.ac.id